Oleh: Fattah Alfarhy Siang ini terik panas matahari sangat menyengat kulitku. Aku hampir tak tahan dengan keadaan ini yang menyiksa. Panas dan rasa haus melengkapi penderitaanku. Sementara, pelajaran Matematika belum terlihat tanda-tanda berakhirnya. Pikiranku kian melemah dan serasa tak sanggup lagi menghitung perkalian bilangan kecil sekalipun. Rumus-rumus itu semakim merumitkan pikiran sehatku. Dalam benakku hanya satu, "Kapan pulang, pulang dan pulang?" Aku sudah tidak tahan. Ku pandangi berkali-kali jam tangan pink mungilku. Jarumnya lama sekali tampak tak bergerak, perasaan ini melayang-layang semakin aneh. Rasanya sudah tidak tahan duduk di tempat ini. "Ya Allah, cobaan ini begitu berat bagiku. Pelajaran Matematika di jam terakhir sekolah." Tiba juga pukul 14.00, bel tanda pulang sudah berbunyi. Riuh teriakan teman-teman sekelasku mengakhiri kegiatan kelas hari ini. Rasa ceria dan lega tampak dari raut wajah mereka. Panas terik matahari seak...
Last years ago, I have many pens at home. Maybe I could be named a pen collector. However, when I have many pens like that I was lazy to write anything. So, it was suitable called be pens-adorned (pena hias). It caused me to call my words or sentences by that name. But, I'm sure will change it suddenly.