“Assalamu’alaikum. Selamat pagi anak-anak, apa kabar?” Setiap pagi pak guru menyapa penuh keramahan anak-anak muridnya sebelum belajar dimulai. Satu per satu siswa-siswi diperhatikan keadaannya untuk memastikan kesiapan mereka dalam menerima pelajaran hari itu. Begitu teramat baiknya pak guru menjadikan setiap siswa-siswinya seperti anaknya sendiri. Di samping anak-anak yang diurus di rumah, masih ada yang menjadi tanggung jawabnya dalam hal ilmu dan pengetahuan. Sesaat setelah beberapa menit pelajaran dimulai, tiba-tiba salah seorang murid bertanya. “Pak, apa hukumnya seorang murid yang tidak suka sama gurunya?” Pertanyaan itu terdengar mengagetkan seluruh penghuni kelas, termasuk guru yang mengajar saat itu. Untuk meredam keadaan yang mencengangkan dalam kelas, pak guru yang juga alumni pesantren ini cukup piawai dalam mengatasi masalah itu. Setelah sejenak terdiam dan saling melempar tanya di antara teman-temannya akhirnya gentian pak guru angkat bicara. “Kenap...
Last years ago, I have many pens at home. Maybe I could be named a pen collector. However, when I have many pens like that I was lazy to write anything. So, it was suitable called be pens-adorned (pena hias). It caused me to call my words or sentences by that name. But, I'm sure will change it suddenly.