Langsung ke konten utama

UN, Antara Moral dan Kebijakan Sekolah

Suasana tenang, terlihat benar-benar suasana kelas kondusif. Ternyata hari ini telah dimulai ujian. Jam 7.15 pertanda para peserta UN memasuki ruangan. Semua perlengkapan harus dibawa tanpa terkecuali selain tas, alat komunikasi dan hal-hal tidak penting lainnya. Panitia telah mengintruksikan perintahnya lewat pengeras suara di depan kantor sekolah.

“Selamat pagi anak-anak. Apa kabar pagi ini?” tanya seorang pengawas dengan penuh keramahan.

“Baik pak, Alhamdulillah,” jawab mereka serentak penuh semangat.

Sebelum memulai UN, seluruhnya melakukan doa bersama sebagaimana hari-hari biasa sebelum belajar. Kali ini doa yang tampaknya biasa saja menjadi lebih khusyu’ seakan-akan hari ini lebih spesial dibandingkan hari-hari lainnya. UN memang masih terdengar mengerikan walau sebenarnya tak seperti dulu sistemnya yang mewajibkan nilai harus sesuai standar sekian poin jika ingin lulus. Dan jika tidak lulus, maka akan mengikuti ujian ulang. Dahsyatnya, aturan pendidikan saat itu yang memaksa para peserta mengerutkan dahi bahkan sebelum mereka menerima soal di hadapan mereka. Cenderung lebih banyak berpikir daripada menyegarkan pikiran sebelum hari pelaksanaan UN.

“Saya ingatkan kembali kepada semua peserta, UN kali ini tidak menentukan kelulusan kalian dari sekolah ini. Kalian tidak perlu cemas, apalagi takut yang berlebihan sampai tidak doyan makan. Intinya, catatan perbuatan dan akhlak kalian itu yang akan mengantarkan sampai ke pintu kelulusan,” tegas salah seorang guru dua hari sebelum UN.

Memang UN kali ni tidak sekejam dulu yang mewajibkan tiap peserta harus mendapatkan poin sekian dan sekian untuk memenuhi kelulusan. Namun, UN lebih sekedar yang dalam tanda kutip syarat saja untuk pemenuhan kegiatan sekolah selama tiga tahun. Dan justru yang lebih menentukan adalah catatan amal perbuatan dan tingkah laku selama menjalani sekolah selama ini. Setidaknya, ini peringatan bagi para siswa untuk lebih berhati-hati dengan keseharian selama ini saat di kelas, sekolah dan kegiatan lain yang membawa nama sekolah.

“Sudah saya bilang sejak dulu, bahwa kalian jika ingin lanjut kuliah belajar yang benar sejak awal masuk sekolah ini. Jika ingin yakin lulus, tentu saja tatakrama dan sopan santun kalian itu menjadi satu prioritas utama. Tentu saja taubat masih berlaku, tapi sayang sekali jika kesadaran itu baru muncul saat hari sudah mendekati UN. Mau dikemanakan catatan bolos, absen, belum lagi pelanggaran-pelanggaran lain yang kau rekam sendiri dengan dalih mencari jati diri,” terang seorang guru memberi wejangan anak-anak kelas XII.

Tapi, itu namanya sejarah yang tidak boleh dibohongi. Segala sesuatu yang terjadi tercatat dengan rapi dan tertib dalam buku kasus. Beberapa pasang mata pun menyaksikan kenakalan yang dinilai wajar oleh sebagian kalangan karena menginjak dewasa. Rahasia masih saja belum terungkap oleh setiap detektif yang berupaya mencari tahu kebenaran-kebenaran kabar yang simpang siur selama ini. Ini sebagai awal pelajaran besar sebuah institusi. Walaupun sudah berkali-kali ada hal-hal yang menarik sebelum pelaksanaan UN. Terserah apa dikata nanti, jika memang sebagian kalangan belum mampu menyatukan persepsi dalam sebuah organisasi tentu akan berdampak pada sebuah keputusan yang fifti fifti tampaknya. Lihat saja kebijakan yang mendera atau justru membuat mereka semakin terlena.

Para generasi penerus tampaknya menunggu hasil keputusan sebuah sekolah tentang kelulusan anak didiknya. Jika memang menegakkan aturan yang berlaku dengan sebenarnya, pasti mereka jera dengan kenakalan yang sudah sejauh ini mereka biasakan. Namun, jika sekolah tidak mampu membawa diri dalam mengambil keputusan hanya karena alasan ini, begitu atas dasar cari aman mau kemana lagi mereka mengaduh jika ada yang dirugikan.

Semoga UN kali ini berakhir husnul khatimah, tanpa ada cacat dan cela dari panitia, guru, dan para calon penerima predikat lulus dari sekolah. Selamat belajar dan semangat!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara Sekian Anomali Kuasa

Selama ini, mungkin sulit untuk memahami realitas. Karena, pada prinsipnya melihat itu sudah cukup. Anomali yang tercipta secara organik gagal terbaca oleh sekian ribu mata yang tak teliti. Mereka bisa bilang, "Karena belum ada yang menyatakan hal tersebut." Namun, apapun adanya dalam setiap fenomena tentu ada sikap sebagai perwakilan pandangan. Tidak menyebut siapa yang benar dan apa yang dikatakan. Semua kembali pada basis semesta yang natural. Lain halnya, jika dikembalikan kepada keraguan akan berhenti pada fanatisme semata. Lalu, apa yang terlihat oleh sepasang mata dan pikiran personal? Ada yang bilang, "Itu dikembalikan kepada kondisi sosial dan politik yang berlaku. Tidak lazim memulangkan kepada kesimpulan spontan para pasukan sorak gembira." Beginilah satu dari sekian wajah klasifikasi kerutan kain perdamaian. Tidak ada yang mengira seseorang yang pernah berkata ini, akan berkata lain di waktu yang berbeda. Dan pada akhirnya, semua berteriak ada kuasa d...

Kala Menulis Bingung Mencari Judul

Oleh: Fattah Alfarhy Penulis itu, ya menulis. Kalau membaca terus, kapan nulisnya? Tapi, menulis tanpa bacaan terus kapan berkembangnya? Agaknya pertanyaan-pertanyaan ini selalu menghantui para penulis. Terlebih penulis pemula semacam saya, Anda, atau mungkin banyak orang di luaran sana yang berkeinginan menulis, tapi tidak lekas menulis. Mereka cuma mengumpulkan teori, tanpa segera mempraktikkan. Dan pada akhirnya keinginan itu hanya menjadi bualan saja. Manusia memiliki jatah waktu yang sama dalam sehari semalam. Setiap kita dijatah 24 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Setiap kita punya kesibukan masing-masing menurut profesi yang digeluti. Semuanya berjalan tanpa halangan dan baik-baik saja. Tapi, rasanya menyisakan waktu sedikit untuk menulis kok berat ya. Padahal, untuk sebuah kata tinggal dipikir direnungkan lalu ditulis dan selesai. Kenapa sulit sekali kebiasaan itu diwujudkan dalam keseharian. Lagi-lagi kesibukan dijadikan alasan. Di saat pikiran sedang mood, rasanya fresh ...

Prinsip-prinsip Dalam Menulis

Oleh: Fattah Alfarhy Perlu dipahami oleh kita semua para penulis pemula, atau bahkan yang sudah sering nampang di media massa bahwa dalam menulis itu ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan. Besar kemungkinan jika prinsip-prinsip tersebut diikuti, kita tidak akan kebingungan untuk menulis. Hasil tulisan itulah nantinya yang akan membawa prinsip-prinsip ke hadapan pembaca. Lalu apa saja prinsip-prinsip yang ada pada proses menulis? Pertama, prinsip kebenaran. Menulis harus dilandasi untuk menyampaikan kebenaran. Bukan sekadar benar untuk diri sendiri. Tapi, kebenaran yang disampaikan melalui tulisan sebisa mungkin agar bisa mempengaruhi orang lain. Jika hal itu dapat terpenuhi, maka tulisan tersebut bisa jadi amal jariyah bagi si penulis. Secara tidak langsung, jika pembacanya melakukan kebaikan seperti yang telah dituliskan maka penulisnya akan mendapat aliran pahala. Karena, dia berhasil mempengaruhi para pembaca melalui tulisan yang dipublikasikannya. Kedua, prinsip kebermanfa...