Langsung ke konten utama

Adab Belajar, Mengkaji Ulang dan Berdiskusi

Oleh: Fattah Alfarhy

Jika menginginkan hasil yang lebih baik dalam memahami suatu pelajaran, jangan sendirian ketika belajar. Barangkali dengan belajar bersama teman akan lebih mudah untuk bertukar pendapat dan bisa saling membantu dalam hal tersebut. Walaupun telah memahami suatu pelajaran, tidak sepatutnya meninggalkan buku pelajaran begitu saja. Sudah seharusnya tetap belajar dan berdiskusi dengan teman ialah lebih baik seakan-akan masih belajar di hadapan guru sebenarnya.

Ketika belajar harus berlaku sopan terhadap siapa saja, sekalipun di hadapan teman sendiri. Tidak semestinya menunjukkan kepandaian apapun di hadapan teman dengan melecehkannya yang lebih lambat dalam memahami suatu pelajaran. Tidak perlu berdebat kusir yang berkepanjangan pada suatu hal yang jelas salahnya, dan jangan sampai membawa ilmu kepada jalan yang batil. Karena, ilmu itu amanah dari Allah Swt. yang harus dibawa dengan sebaik-baiknya dengan tidak menyia-nyiakannya. Sehingga, mengkaji ulang merupakan cara terbaik untuk menjaga ilmu yang telah dikuasai, supaya tidak lupa.

Suatu saat, kesungguhan belajar yang telah dilakukan akan teruji di dalam masyarakat. Seorang ahli ilmu merupakan orang yang terpandang dalam masyarakat. Ketika Ia berhasil mengatasi persoalan di dalamnya, akan mendapat kedudukan mulia. Sebaliknya, jika Ia gagal mengatasi ujian yang ada, niscaya masyarakat akan mencelanya. Inilah konsekuensi yang akan didapatkan bagi orang yang bersungguh-sungguh atau tidak, saat masih belajar.

Ketika hendak menghafalkan sesuatu, sebaiknya menghindari lafazh atau kata yang tidak paham artinya. Karena itu, upayakan untuk mengerti arti dan maksud dari suatu materi yang kemudian ditanamkan dalam hari. Inilah dipahami bahwa ilmu itu bukan sesuatu yang dihafal, melainkan sesuatu yang dipahami.

Saat berdiskusi, jangan sampai berupaya untuk memutus pembicaraan seseorang yang tengah menyampaikan pendapatnya. Sementara, ketika terdapat suatu masalah tidak usah tergesa-gesa dalam menjawabnya dan mendebat sesuatu yang tidak benar adanya. Jika ingin membantah, jangan asal bunyi tanpa memiliki alasan yang kuat. Tanpa memperlihatkan kedudukan di hadapan orang lain, diskusi harus menjadi ajang untuk berbagi bukan untuk saling mencaci, apalagi saling mencari kekurangan masing-masing. Diskusi juga harus dijadikan sebagai ajang untuk mencari kemenangan dan yang paling benar. Sehingga, ketika ada pendapat yang kurang tepat, tetap harus dihormati serta menghindari kata-kata yang dapat menyakitkan hati lawan bicara.

Jika diskusi dilakukan untuk membahas persoalan ilmiah, akan banyak memberikan manfaat, di antaranya memperkuat pengertian, memperlancar pembicaraan, membantu dalam memahami suatu masalah dan menambah keberanian diri dalam menyampaikan pendapat. Semua manfaat itu akan didapatkan jika dalam berdiskusi tetap mengedepankan akhlak yang baik dan sesuai dengan prinsip untuk menyampaikan kebenaran. Maka, yang dianjurkan saat diskusi bukan saja menghindari perkataan yang tak patut terucap, tetapi juga tidak perlu takut pada celaan orang lain selama tetap dalam posisi yang benar.

Sumber: Kitab Washoya al-Aba' li al-Abna'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara Sekian Anomali Kuasa

Selama ini, mungkin sulit untuk memahami realitas. Karena, pada prinsipnya melihat itu sudah cukup. Anomali yang tercipta secara organik gagal terbaca oleh sekian ribu mata yang tak teliti. Mereka bisa bilang, "Karena belum ada yang menyatakan hal tersebut." Namun, apapun adanya dalam setiap fenomena tentu ada sikap sebagai perwakilan pandangan. Tidak menyebut siapa yang benar dan apa yang dikatakan. Semua kembali pada basis semesta yang natural. Lain halnya, jika dikembalikan kepada keraguan akan berhenti pada fanatisme semata. Lalu, apa yang terlihat oleh sepasang mata dan pikiran personal? Ada yang bilang, "Itu dikembalikan kepada kondisi sosial dan politik yang berlaku. Tidak lazim memulangkan kepada kesimpulan spontan para pasukan sorak gembira." Beginilah satu dari sekian wajah klasifikasi kerutan kain perdamaian. Tidak ada yang mengira seseorang yang pernah berkata ini, akan berkata lain di waktu yang berbeda. Dan pada akhirnya, semua berteriak ada kuasa d...

Kala Menulis Bingung Mencari Judul

Oleh: Fattah Alfarhy Penulis itu, ya menulis. Kalau membaca terus, kapan nulisnya? Tapi, menulis tanpa bacaan terus kapan berkembangnya? Agaknya pertanyaan-pertanyaan ini selalu menghantui para penulis. Terlebih penulis pemula semacam saya, Anda, atau mungkin banyak orang di luaran sana yang berkeinginan menulis, tapi tidak lekas menulis. Mereka cuma mengumpulkan teori, tanpa segera mempraktikkan. Dan pada akhirnya keinginan itu hanya menjadi bualan saja. Manusia memiliki jatah waktu yang sama dalam sehari semalam. Setiap kita dijatah 24 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Setiap kita punya kesibukan masing-masing menurut profesi yang digeluti. Semuanya berjalan tanpa halangan dan baik-baik saja. Tapi, rasanya menyisakan waktu sedikit untuk menulis kok berat ya. Padahal, untuk sebuah kata tinggal dipikir direnungkan lalu ditulis dan selesai. Kenapa sulit sekali kebiasaan itu diwujudkan dalam keseharian. Lagi-lagi kesibukan dijadikan alasan. Di saat pikiran sedang mood, rasanya fresh ...

Prinsip-prinsip Dalam Menulis

Oleh: Fattah Alfarhy Perlu dipahami oleh kita semua para penulis pemula, atau bahkan yang sudah sering nampang di media massa bahwa dalam menulis itu ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan. Besar kemungkinan jika prinsip-prinsip tersebut diikuti, kita tidak akan kebingungan untuk menulis. Hasil tulisan itulah nantinya yang akan membawa prinsip-prinsip ke hadapan pembaca. Lalu apa saja prinsip-prinsip yang ada pada proses menulis? Pertama, prinsip kebenaran. Menulis harus dilandasi untuk menyampaikan kebenaran. Bukan sekadar benar untuk diri sendiri. Tapi, kebenaran yang disampaikan melalui tulisan sebisa mungkin agar bisa mempengaruhi orang lain. Jika hal itu dapat terpenuhi, maka tulisan tersebut bisa jadi amal jariyah bagi si penulis. Secara tidak langsung, jika pembacanya melakukan kebaikan seperti yang telah dituliskan maka penulisnya akan mendapat aliran pahala. Karena, dia berhasil mempengaruhi para pembaca melalui tulisan yang dipublikasikannya. Kedua, prinsip kebermanfa...