Oleh: Fattah Alfarhy
Adakalanya saat melewati sekelompok orang, hendaknya mengucap salam kepada mereka dengan redaksi yang telah diajarkan Rasulullah Saw. Ucapkanlah, “Assalamu’alaikum”. Tidak perlu berlebihan dalam mengucapkan salam. Apalagi mengganti ucapan tersebut dengan redaksi lain yang mungkin jauh dari esensi salam itu sendiri. Karenanya, hal demikian begitu penting untuk dipraktikkan mengingat budaya saling memberi salam mengandung inti saling mendoakan.
Apabila ingin memasuki sebuah ruangan, tentu saja harus izin terlebih dulu.
Boleh jadi ruangan itu bukan tersedia untuk umum kala itu. Bisa saja mereka
yang di dalam ruangan sedang berdiskusi tentang suatu hal yang tidak mungkin
orang lain ikut di dalamnya. Bersikap kekanak-kanakan juga harus dijauhi. Jika itu
dibiasakan tentu akan sangat berpengaruh terhadap wibawa diri sendiri. Sedangkan
wibawa itu selalu berkenaan dengan harga diri sendiri yang dibawa ke manapun
tempatnya. Sehingga, menjaga wibawa harus menjadi satu upaya menampilkan ilmu
yang telah dimiliki.
Dalam hal ini, kita tentu perlu berkaca terhadap diri sendiri. Banyak hal
yang tentunya ingin dilakukan secara rahasia untuk diri sendiri. Jika ada orang
lain mengetahuinya sengaja atau tidak sengaja tentu rasanya tidak nyaman
kemudian. Barangkali seperti itulah ketika kita mencampuri urusan orang lain
tanpa seizinnya. Maka yang terpenting adalah harus pandai berkomunikasi dan
menjaga sikap di hadapan orang lain.
Suatu ketika, orang akan membutuhkan
dan mengundang kita ke sebuah acara. Bila kita termasuk golongan yang muda di
antara mereka, hendaknya duduk setelah dipersilakan. Apabila telah diberi
kesempatan duduk, jangan sampai mendesak—menyuruh bergeser—orang lain yang
lebih dulu duduk di tempat tersebut. Sangat dilarang apabila sampai mengusir
orang-orang tersebut. Beda kasus, bila orangnya mempersilakan untuk menempati
kursinya. Tetapi, apabila datang lagi orang yang lebih pantas untuk
menempatinya persilakan dengan sopan tempat semula yang kita duduki. Apabila
hal demikian ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, tidak lain
yang kita dapat adalah kemuliaan yang bertambah di mata masyarakat.
Berada di suatu pertemuan besar merupakan suatu kehormatan. Tidak sepatutnya
memulai pembicaraan sebelum orang yang lebih utama dalam pertemuan tersebut.
Bila sudah dipersilakan, pergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Tidak usah
berlebihan dalam penyampaian. Sebaiknya berbicara seperlunya saja. Bila menyanggah
suatu pendapat, sampaikan dengan penuh adab yang baik. Hindari tertawa
terbahak-bahak. Karena ini bisa menghinakan diri sendiri. Berlebihan dalam
bercanda juga dilarang. Tidak mungkin orang yang banyak bercanda akan selalu
nampak mulia. Justru sebaliknya, orang lain akan menjadi bosan terhadap candaan
yang berlebihan.
Maka, memilih teman sekelas juga perlu kriteria. Tidak semua teman dapat
diajak serius untuk belajar dan berbuat kebaikan. Diutamakan memilih teman yang
memiliki sifat rendah hati, wara’—menjaga diri dari sesuatu yang haram,
serta teman yang sempurna akhlaknya. Jika salah pilih teman yang justru suka
mengumpat, mengadu domba, suka berbuat fasik dan berlebihan dalam ucapan maupun perbuatan tentu akan berakibat celaka.
Misalnya, mereka yang suka berbohong, akhlaknya rendah dan suka munafik adalah
sekian dari golongan teman yang harus dijauhi. Sebab, secara tidak langsung
akhlak tercela yang mereka miliki akan menular teman-teman sepergaulan
sebagaimana api yang akan melalap kayu bakar yang ada.
Komentar
Posting Komentar