Selama ini, mungkin sulit untuk memahami realitas. Karena, pada prinsipnya melihat itu sudah cukup. Anomali yang tercipta secara organik gagal terbaca oleh sekian ribu mata yang tak teliti. Mereka bisa bilang, "Karena belum ada yang menyatakan hal tersebut."
Namun, apapun adanya dalam setiap fenomena tentu ada sikap sebagai perwakilan pandangan. Tidak menyebut siapa yang benar dan apa yang dikatakan. Semua kembali pada basis semesta yang natural. Lain halnya, jika dikembalikan kepada keraguan akan berhenti pada fanatisme semata. Lalu, apa yang terlihat oleh sepasang mata dan pikiran personal?
Ada yang bilang, "Itu dikembalikan kepada kondisi sosial dan politik yang berlaku. Tidak lazim memulangkan kepada kesimpulan spontan para pasukan sorak gembira." Beginilah satu dari sekian wajah klasifikasi kerutan kain perdamaian. Tidak ada yang mengira seseorang yang pernah berkata ini, akan berkata lain di waktu yang berbeda.
Dan pada akhirnya, semua berteriak ada kuasa di balik kontrol wacana yang bergulir. Semacam pil pahit yang menyehatkan. Di sisi lain, pantang menjadi bagian dari suksesi kekuasaan. Namun, apa daya seorang pelantun kata yang tanpa piranti pelindung yang mumpuni. Tak ubahnya, mereka hanya memindahkan informasi dari satu wadah ke wadah lain yang sama luasnya. Keduanya pun berada dalam lingkaran kuasa para pencipta wacana.
Jonggol, 30 Desember 2019
Komentar
Posting Komentar