Oleh : Fattah Alfarhy Saat ku ingat, sepotong wajah itu Penuh kesejukan dalam senyum dan wibawa Kharisma tinggi menjulang tanpa merendahkan Sambutan hikmah di hadapan para guru besar Al-Quran mulia Enam tahun lalu ku injakkan kaki di tempat itu Majlis penuh kenangan hebat nan indah Di sanalah aku bertemu orang-orang kuat Para pejuang Al-Quran yang penuh kedamaian Abah, Engkau mempertemukan kami di Al-Hikam Taman cahaya ilmu yang takkan pernah padam Dari ketiadaan menjadi berwawasan Menyadarkan kami dalam dunia pikir dan bacaan Masa itu telah berlalu Engkau laksana embun suci dalam jiwa kami Kesejukan titahmu pelita penuntun hidup Dalam naungan ilahi dan ibu pertiwi Abah, Kini engkau telah berpulang ke Rahmat-Nya Semua merasa kehilangan sosok guru bangsa Engkau yang dalam naungan cinta dan hikmah Menyisakan berjuta kenangan tanpa jeda Di batas nengeri ini aku berdoa Semoga ada kekuatan penerus perjuanganmu Engkaulah pahlawan kami dalam agama Hanya lantunan ayat...
Last years ago, I have many pens at home. Maybe I could be named a pen collector. However, when I have many pens like that I was lazy to write anything. So, it was suitable called be pens-adorned (pena hias). It caused me to call my words or sentences by that name. But, I'm sure will change it suddenly.