Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Guru Ngaji

Oleh: Fattah Alfarhy Teringat di masa kecil, saat waktu menjelang Magrib. Lima belas menit lagi adzan akan berkumandang. Tampak dari kejauhan anak-anak berbaris dengan rapinya membawa kitab Turutan dalam dekapannya. Mereka berjalan penuh suka cita. Sesampainya di Musholla, mereka bergegas membantu teman-teman lainnya yang sedari tadi gotong royong mengisi bak tempat air wudlu. Tampak sudah cukup untuk dipakai wudlu para jama'ah shalat Magrib dan Isya', mereka pun menghentikan aktifitasnya. Satu dari mereka segera meraih mikrofon lusuh yang sudah penuh bisikan saat bersuara. Adzan pun berkumandang olehnya. Merdunya suara anak kecil itu. Para jama'ah pun bertanya-tanya, "Anak siapa itu? Alangkah indahnya, lantunan adzan yang dibawakannya." Semua bergegas memenuhi barisan shaf terdepan selepas berwudlu. Sembari menunggu imam, mereka bersama-sama melantunkan lagu-lagu Islami yang penuh makna. Orang menyebutnya sebagai "puji-pujian" yang bermuatan seruan-se...

Meraih Bahagia Penuh Makna

Foto: Ilustrasi (ummi-online.com) Oleh: Fattah Alfarhy "Hidup sekali, hendaknya hidup yang bermakna," Dr. KH. A. Hasyim Muzadi Sebuah perjuangan itu bermakna. Jika hidup itu perjuangan, maka kehidupan itu harus dimaknai dalam setiap langkahnya. Segala potensi suka dan duka yang terjadi menjadi bagian penting di dalamnya. Maka, bahagia adalah satu hal dan kesedihan adalah satu hal yang lain. Namun, di dalam perjalanannya keduanya bersandingan tanpa batas dan kemungkinan-kemungkinan. Kesusahan itu pasti dan bahagia menjadi bagiannya. Dua hal ini tidak dapat terpisah satu sama lainnya. Meskipun dalam realitas bertolak belakang dan berbeda. Di dalam al-Quran, kesusahan diwakili dengan kata al-'Usr. Sementara kebahagiaan diwakili dengan al-Yusr yang oleh kebanyakan terjemahan memberi makna kemudahan. Hematnya, yang mudah itu ringan. Tentunya kebahagiaan itu bukan sesuatu yang berat. Justru kemudahan itulah interpretasi dari kebahagiaan itu sendiri. Sehingga...

Gemar Membaca, Susah Nulisnya

Foto: Ilustrasi (news.okezone.com) Oleh: Fattah Alfarhy Manusia tercipta sebagai makhluk paling luar biasa di dunia ini. Dia mendapatkan aneka keistimewaan yang sangat berbeda dengan makhluk yang lainnya. Sehingga dia mendapatkan amanah yang begitu besar sebagai khalifah di bumi ini. Segala sesuatu harus dipelajari untuk mengatur dan mengolah isi bumi. Dia perlu banyak informasi dan aneka pengetahuan sebagai bekal hidup di bumi ini. Wahyu pertama turun berkenaan dengan perintah untuk membaca. Bacaan bukan hanya yang terkait dengan sesuatu yang tersurat saja melainkan berbagai hal yang tersirat di alam raya ini haruslah dibaca sekaligus untuk dipahami secara mendalam. Bacalah apa saja yang terdapat di alam raya ini. Karena itulah membaca tak cukup hanya mengingat apa yang tertulis, namun hal yang tak kalah penting dari membaca adalah memahami isi kandungan bacaan tersebut untuk kemudian dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada pepatah mengatakan, “ membaca ...