Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

Rukun Dalam Perbedaan

Oleh: Fattah Alfarhy Duduk di tepi pantai mengajarkan kita tentang kesatuan alam yang sangat serasi. Kerukunan antara bumi, air dan udara menjadi terasa lengkap saat cahaya di ufuk Barat itu semakin redup tinggalkan warna yang indah. Sunset, orang bilang begitu indah sesaat sebelum waktu benar-benar Maghrib. Menunjukkan kepada kita betapa luas pandangan mata menyusuri lautan yang bertepikan langit biru. Kini, langit itu ada di hadapan mata. Ia menyatu bersama lautan. Sebuah kehidupan yang indah. Perbedaan yang tidak menjadi pemisah antara keduanya. Laut dan langit itu menunjukkan keserasian alam yang sungguh luar biasa. Saat detik-detik matahari meninggalkan keduanya, pertanda kegelapan akan segera datang. Namun, sisa-sisa cahaya itu melukiskan indahnya alam yang tercipta dari aneka perbedaan. Tidak hanya langit, laut dan bumi yang merasakannya. Di saat matahari benar-benar meninggalkan mereka, kegelapan membawa suasana tentram pertanda waktu Magrib telah tiba. Saatnya man...

Sekolah Pendengar

Oleh: Fattah Alfarhy Sejenak kita berpikir tentang dunia pendidikan. Tidak perlu membahas soal sistem pendidikan yang rumit. Tidak usah terlalu gegabah menyebut pendidikan yang mundur dan sebagainya. Namun, justru perlu bertanya kepada diri sendiri tentang kesiapan menjadi pendengar bijak. Agaknya berlebihan, tapi semoga bisa menjadi sentilan ringan bagi kita semua. Tanpa memandang kedudukan sebagai guru, orang tua dan murid. Bicara mengenai sekolah, semua pernah menjadi bagian di dalamnya. Entah sebagai murid, pengurus, tukang kebun sampai menjadi guru yang selalu setia memberi ilmu di sekolah. Tanpa guru dan murid, apa mungkin sekolah itu berjalan. Sekolah menjadi hidup dengan kehadiran orang-orang di dalamnya. Dengan kehadiran mereka sistem pendidikan di sekolah itu berjalan. Setidaknya bukan sekadar memberikan pelajaran 1+1 = 2. Lebih dari itu, sekolah menjadi rumah istimewa untuk transformasi ilmu kepada para pembelajar sejati. Tak peduli guru atau murid, sekolah me...

Mendidik Orang Mendengar

Oleh: Fattah Alfarhy Dunia pendidikan itu luas. Saking luasnya, terkadang menjadikannya cukup dilihat dari sisi saja. Masib banyak yang menganggap mendidik itu harus menghasilkan kepandaian. Jika murid tidak pandai-pandai, maka pendidikan dinilai gagal. Kegagalan itu dinilai sebagai penghambat kemajuan kualitas pendidikan. Barangkali itu menjadi satu pandangan sempit terhadap eksistensinya. Namun, dalam perspektif lebih luas seharusnya pendidikan dipandang sebagai way of change . Pendidikan bukan sekadar mentransformasikan ilmu pengetahuan oleh guru ke murid. Justru pendidikan merambah segala ruang perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Mengajar memiliki arti lebih sempit daripada mendidik. Mengajar berasal dari istilah Arab ta'lim yang cenderung memiliki obyek lebih sempit. Maka, proses mengajar terkesan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan saja. Istilah ilmu memiliki akar kata yang sama dengan ta'lim . Keduanya berasal dari kata 'alima ('ain-lam-mim) yang ...

Menebar Hikmah, Meraih Berkah

Oleh: Fattah Alfarhy Zaman sekarang sudah beda dengan zaman baheula. Kalau dulu, orang diberi nasihat didengar. Tidak cukup sampai di situ, nasihat itu ditancapkan dalam hati. Kemudian suatu saat akan disampaikan sebagai hikmah. Karena suatu peristiwa yang terjadi atas kelalaian manusia, hikmah sering dinanti sebagai penawarnya. Seseorang yang tengah dirudung susah dalam hatinya selalu merindukan hikmah yang menyejukkan. Hikmah itu bisa berupa nasihat dan berita kebenaran.  Keadaan lain merubah kebiasaan orang dahulu. Anak-anak zaman sekarang lebih gampang ingat iklan di TV daripada nasihat orang tuanya. Generasi ABG pun sama, lebih peduli dengan status teman daripada pesan orang tua di pagi hari. Sudah seringkali dibilang jika sekolah jangan pernah suka bolos. Tetapi, faktanya tetap saja surat panggilan guru BP datang meminta orang tua ke sekolah. Itu semua lantaran kenakalan anaknya yang sulit dikendalikan. Istilah zaman dahulu, orang bilang, "Dinasihati masuk telinga ka...

Tipe Ibadah Manusia

Oleh : Fattah Alfarhy Sebagai seorang muslim yang taat tidak sepatutnya meninggalkan shalat barang satu waktu saja. Tidak menjamin bahwa kehidupan masih ditemui esok hari oleh setiap orang. Tanpa disadari hidup yang dijalaninya nge- flat saja tidak ada peningkatan sedikit pun. Tingkat ketaatan muslim mengikuti naik turunnya iman yang tertancap dalam hatinya. Lagi-lagi Islam dibawa-bawa untuk sesuatu yang tampak kasat mata saja. Jika itu berupa aksi nyata, dan memiliki jama'ah ratusan lebih orang-orang banyak kepincut. Sampai-sampai tiada bedanya mana aksi sungguhan dan ikut-ikutan. Ironisnya jika dalam berbuat di lapangan keluar ujaran kebencian untuk saudara seiman. Hanya gara-gara tidak kumpul dalam satu kesempatan yang sama menjadi obyek dendam sumpah serapah satu oknum yang mengatasnamakan muslim. Ibadah di dunia ini merupakan satu konsekuensi bagi manusia sebagai makhluk Allah. Manusia telah berjanji kepada Allah akan menjadi Hamba-Nya jauh masa sebelum dilahirkan ke ...