Langsung ke konten utama

Mendidik Orang Mendengar

Oleh: Fattah Alfarhy
Dunia pendidikan itu luas. Saking luasnya, terkadang menjadikannya cukup dilihat dari sisi saja. Masib banyak yang menganggap mendidik itu harus menghasilkan kepandaian. Jika murid tidak pandai-pandai, maka pendidikan dinilai gagal. Kegagalan itu dinilai sebagai penghambat kemajuan kualitas pendidikan. Barangkali itu menjadi satu pandangan sempit terhadap eksistensinya. Namun, dalam perspektif lebih luas seharusnya pendidikan dipandang sebagai way of change. Pendidikan bukan sekadar mentransformasikan ilmu pengetahuan oleh guru ke murid. Justru pendidikan merambah segala ruang perubahan yang menjadikan hidup lebih baik.
Mengajar memiliki arti lebih sempit daripada mendidik. Mengajar berasal dari istilah Arab ta'lim yang cenderung memiliki obyek lebih sempit. Maka, proses mengajar terkesan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan saja. Istilah ilmu memiliki akar kata yang sama dengan ta'lim. Keduanya berasal dari kata 'alima ('ain-lam-mim) yang berarti mengetahui. Jadi, mengajar itu menyampaikan ilmu pengetahuan dengan tujuan agar menjadi mengerti sesuatu yang belum pernah ditahu. Itulah sebabnya, dengan belajar seseorang akan tahu sesuatu yang belum pernah diketahui.
Kesan yang dapat diambil dari proses belajar mengajar adalah interaksi antara guru dan murid saja. Sebagai pelengkapnya ada mata pelajaran yang diajarkan. Setiap guru tidak harus sama cara mengajarkan pelajarannya. Namun, pelajaran harus ada sebagai konsekuensi jadwal kegiatan belajar dan mengajar. Asal ada pengajar dan pelajar saat itu, jadwal akan berjalan lancar. Jam tujuh masuk, jam dua belas pulang selesai urusan. Begitu seterusnya berulang sampai pada akhirnya tiba masa liburan.
Lain halnya dengan mendidik. Istilah ini berasal dari bahasa Arab ta'dib yang berarti mendidik, mengayomi, mengasuh, memelihara dan memberi teladan. Dalam mendidik tidak cukup hanya berkisar pada kepandaian saja. Asal anak pandai, pendidikan dijamin berhasil. Ternyata bukan demikian. Mendidik itu meliputi ajaran, tuntunan dan kepemimpinan. Betapa luasnya mendidik itu tidak cukup hanya melibatkan adanya pengajar, pelajar dan pelajaran saja. Lebih jauh dari itu, mendidik adalah upaya yang berulang-ulang dilakukan seorang guru. Di sana ada pelajaran mengenai berbagai cara untuk berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.
Sekolah menjadi tempat ideal untuk melaksanakan pendidikan. Kendati demikian, bukan berarti semua pendidikan harus ditempuh di sekolah. "Seorang ibu menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya." Ini bukti konkret bila tak selamanya pendidikan itu di sekolah. Bahkan, jika mau flash back ke belakang dapat dilihat keanekaragaman inovasi pendidikan zaman dahulu. Zaman Rasulullah saja pendidikan di masjid. Salah bila masjid hanya untuk ibadah shalat saja. Para sahabat berbondong-bondong mengikuti kajian apa pun oleh Rasulullah di rumah Allah tersebut. Hal itu berkembang oleh para ulama' yang merupakan pewaris nabi. Masjid yang merupakan rumah dakwah umat Islam kian dikembangkan menjadi beragam inovasi. Dari masjid itu bisa berkembang dengan berdirinya pondok pesantren, TPA dan seterusnya. Itu sebabnya, sekolah bukan semata-mata tempat di mana manusia harus belajar.
Kembali kepada proses mendidik yang telah disinggung. Seseorang yang mendidik berarti dia siap menjadi orang tua bagi anak-anak didiknya. Di sana bukan saja mengajarkan ilmu pengetahuan. Orang yang mendidik harus siap memberikan segala kemampuannya untuk anak-anaknya. Ibarat orang tua yang memberi makan, mendidik juga harus memberi teladan dan memelihara. Guru harus menjadi ayah bagi anak-anak didiknya. Dia mampu menjadikan dirinya sebagai pemimpin keluarga dalam ruang kelas. Sehingga, tak satu pun anak berani bicara saat belajar berlangsung. Artinya guru telah menahbiskan dirinya sebagai penyampai kebenaran di hadapan anak didiknya.
Oleh karena itu, pendidikan yang baik itu menciptakan keharmonisan antara guru dan murid. Interaksi keduanya menciptakan proses perubahan signifikan pada karakter. Di sinilah proses pembelajaran untuk mendengar dan didengar. Kalau hanya menyampaikan pelajaran saja di kelas, barangkali mudahnya selesai urusan. Akan tetapi, tidak bisa dipastikan apakah yang didengar itu diingat. Keluar kelas, semua kembali seperti semula. Namun, di sini terdapat interaksi batin yang hanya diketahui bagai orang tua dan anak. Seorang guru mampu mengayomi dan memelihara perkembangan semua anak didiknya tanpa terkecuali. Tidak membedakan mana yang pandai dan mana yang kurang. Sehingga, pada akhirnya semua murid mendengar bukan semata-mata suka tidak suka. Setidaknya apa yang didengar itu sebagai kebenaran yang patut dipilah mana yang akan diamalkan. []
Jepara, 05 Oktober 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara Sekian Anomali Kuasa

Selama ini, mungkin sulit untuk memahami realitas. Karena, pada prinsipnya melihat itu sudah cukup. Anomali yang tercipta secara organik gagal terbaca oleh sekian ribu mata yang tak teliti. Mereka bisa bilang, "Karena belum ada yang menyatakan hal tersebut." Namun, apapun adanya dalam setiap fenomena tentu ada sikap sebagai perwakilan pandangan. Tidak menyebut siapa yang benar dan apa yang dikatakan. Semua kembali pada basis semesta yang natural. Lain halnya, jika dikembalikan kepada keraguan akan berhenti pada fanatisme semata. Lalu, apa yang terlihat oleh sepasang mata dan pikiran personal? Ada yang bilang, "Itu dikembalikan kepada kondisi sosial dan politik yang berlaku. Tidak lazim memulangkan kepada kesimpulan spontan para pasukan sorak gembira." Beginilah satu dari sekian wajah klasifikasi kerutan kain perdamaian. Tidak ada yang mengira seseorang yang pernah berkata ini, akan berkata lain di waktu yang berbeda. Dan pada akhirnya, semua berteriak ada kuasa d...

Kala Menulis Bingung Mencari Judul

Oleh: Fattah Alfarhy Penulis itu, ya menulis. Kalau membaca terus, kapan nulisnya? Tapi, menulis tanpa bacaan terus kapan berkembangnya? Agaknya pertanyaan-pertanyaan ini selalu menghantui para penulis. Terlebih penulis pemula semacam saya, Anda, atau mungkin banyak orang di luaran sana yang berkeinginan menulis, tapi tidak lekas menulis. Mereka cuma mengumpulkan teori, tanpa segera mempraktikkan. Dan pada akhirnya keinginan itu hanya menjadi bualan saja. Manusia memiliki jatah waktu yang sama dalam sehari semalam. Setiap kita dijatah 24 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Setiap kita punya kesibukan masing-masing menurut profesi yang digeluti. Semuanya berjalan tanpa halangan dan baik-baik saja. Tapi, rasanya menyisakan waktu sedikit untuk menulis kok berat ya. Padahal, untuk sebuah kata tinggal dipikir direnungkan lalu ditulis dan selesai. Kenapa sulit sekali kebiasaan itu diwujudkan dalam keseharian. Lagi-lagi kesibukan dijadikan alasan. Di saat pikiran sedang mood, rasanya fresh ...

Prinsip-prinsip Dalam Menulis

Oleh: Fattah Alfarhy Perlu dipahami oleh kita semua para penulis pemula, atau bahkan yang sudah sering nampang di media massa bahwa dalam menulis itu ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan. Besar kemungkinan jika prinsip-prinsip tersebut diikuti, kita tidak akan kebingungan untuk menulis. Hasil tulisan itulah nantinya yang akan membawa prinsip-prinsip ke hadapan pembaca. Lalu apa saja prinsip-prinsip yang ada pada proses menulis? Pertama, prinsip kebenaran. Menulis harus dilandasi untuk menyampaikan kebenaran. Bukan sekadar benar untuk diri sendiri. Tapi, kebenaran yang disampaikan melalui tulisan sebisa mungkin agar bisa mempengaruhi orang lain. Jika hal itu dapat terpenuhi, maka tulisan tersebut bisa jadi amal jariyah bagi si penulis. Secara tidak langsung, jika pembacanya melakukan kebaikan seperti yang telah dituliskan maka penulisnya akan mendapat aliran pahala. Karena, dia berhasil mempengaruhi para pembaca melalui tulisan yang dipublikasikannya. Kedua, prinsip kebermanfa...