Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Mama is Number One

Oleh: Fattah Alfarhy Siang ini berasa sangat panas. Matahari tepat di atas ubun-ubun. Sementara jalan menuju ke rumah masih teramat jauh untuk ditapaki langkah yang semakin lelah. Rasa lapar pun turut melengkapi penderitaan. Aku makin tak kuasa dikalahkan langkah gontai kaki yang makin tak beraturan. Dan lima belas menit kemudian, tibalah aku di rumah. Sejauh dan selelah apapun yang kita rasa, rumah adalah tempat sejuk yang selalu menaungi kita dalam kedamaian. Saat suka maupun duka, lapar atau kenyang, semua terasa indah di rumah. Sekali pun tak kutemui makanan apapun di rumah, tak ada yang kusesali. Bersyukur telah sampai dengan segenap jiwa raga selamat. "Mama, aku pulang." Entah mama ke mana. Tiga kali kupanggil tak kunjung terlihat sapa lembutnya. Padahal aku begitu rindu dengan sambal tomat buatannya. Salah satu makanan favoritku. Kalau makan ada sambal tomat buatan mama, bawaannya suka nambah nasi. Tapi, kali ini entah ke mana beliau. Aku bergegas ke dapur mencar...

Terhimpit Senja

Oleh: Fattah Alfarhy Sedari pagi tak enak rasa hati ini. Berpaut pada janji yang telah terucap seminggu lalu. Wajahmu yang selalu terbayang dalam pikiranku. Membungkus harapan tinggi asa berpadu. Dalam telinga ini hanya terngiang indah namamu. Tak kusadari sudah menjelang senja. Tak kunjung reda rasa rindu yang menyesak dada. Adakah yang di sana merasakan ini. Tak terbendung lagi membentuk butiran-butiran bening menetes di pipi. Mencipta rasa galaunya hati ini. Menanti kata sapaan lembut pujaan hati. Kasih... Apakah cukup rindu seperti ini saja. Atau harus selalu bertemu dalam doa. Semakin hari gejolak hati makin tak menentu. Adakah senja ini cukup mewakili rinduku padamu. Semoga lekas datang Desember penuh cita. Dalam harap dan suka berujung bahagia. Kaulah yang selalu ditunggu tanpa peduli siang dan malam menembus waktu Apa kabarmu kini?  Senja makin menipis meninggalkan sinarnya. Semburat hijau mulai tertutup oleh gelap gulita. Sampai tak ketemu indah cin...

Cerita Senja

Oleh: Fattah Alfarhy Tanpa kusadari, indah itu menyejukkan Mata memandang, hati pun tentram Sejenak pun tak mengapa Hanya saja ini ujian sebenarnya Datang dan pergi, itu kenyataan Hanya keteguhan hati yang kupunya Sesaat mengisi hati yang kesepian Menghujam rindu mendalam saat kepergian Ibarat pelangi yang sekejap berkilau Rindu ini berlalu dan lenyap begitu saja Engkau pun tanpa berpesan apa-apa Entah kembali lagi atau tidak sama sekali Biarlah rinduku bersama senja kali ini Meski hanya sebentar untuk singgah di hati Kuyakin suatu saat pertemuan itu terjadi Entah di mana, kapan dan suatu hari nanti Kulon Progo, 26 November 2018 #KelasfiksiODOP6 #onedayonepost

Mengeja Fajar

Oleh: Fattah Alfarhy Sunyi masih terasa dalam balutan dingin yang begitu khas. Sang fajar telah datang membawa kedamaian. Mereka yang tergugah hati untuk menyongsong kemuliaannya dengan persimpuhan. Dalam gelap yang tenang, mengeja fajar penuh keheningan. Menjadi indah dalam sunyi mencari arti dan makna diri. Sementara kang Isman belum juga beranjak dari lelap tidurnya. Ia masih berselimut mimpi indah bersama bantal gulingnya. Sudah berkali-kali kang Tarom membangunkannya. Tetap saja tidak mempan untuk jadi alarm bangun tidurnya. Benar-benar kang Isman namanya, kalau dibangunkan tiga sampai empat kali tidak jua beranjak dari tempat tidurnya. Begitulah Ia dikenal di kalangan santri Al-Ishlah. "Man, man. Bangun man. Ustadz Rouf datang tuh," sergah Tarom membangunkannya. Sambil Ia menyebutkan nama Ustadz Rouf, berharap Ia akan segera terbangun karena takut. Ustadz Rouf merupakan salah satu ustadz yang paling ditakuti para santri dengan posisinya sebagai pengurus ba...