Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Menulis; Antara Kesan dan Gagasan

Oleh: Fattah Alfarhy Seorang manusia terlahir ke dunia bukan tanpa tujuan. Kehidupan yang dihadapinya menjadi satu medan untuk dia berpikir dan berkarya. Tanpa karya nyata, manusia hanya meninggalkan nama. Dan pada akhirnya lambat laun namanya akan terbenam oleh nama-nama lain yang berhamburan. Itulah pentingnya sebuah karya untuk menunjukkan eksistensi manusia. Sebagai makhluk pemikir, dia harus membuktikan jejak kehidupannya dalam sebuah karya sebagai buahnya. Dunia teramat luas untuk dijangkau manusia. Keluasannya mengundang rasa penasaran untuk menggali segala yang ada. Melalui panca indera yang dimilikinya, dia mencari tahu apa arti sebuah nama. Jika tanpa berpikir tak mungkin manusia mengerti apa itu materi untuk sebuah nama. Contoh mudah saja buah apel. Makan buah apel satu saja terasa ketagihan. Tak puas kalau cuma satu saja. Betapa enaknya rasa asam bercampur manis yang dibalut elok kulitnya berwarna merah atau hijau. Itulah sedikit sifat buah apel. Atas mata yang meli...

Bijak itu Belajar dari Mana pun

Oleh: Fattah Alfarhy "A wise person knows that there is something to be learned from everyone," Anonymous Seorang bijak selalu dicari orang. Dia juga takkan berhenti belajar pada satu orang saja. Satu masalah baginya tidak cukup ditafsirkan oleh persepsi dari satu sumber saja. Selalu mencari celah untuk mengembangkan sesuatu yang telah dia baca, dengar dan tuliskan. Dia benar-benar seorang pembelajar sejati. Prinsip yang begitu kuat tertanam dalam dirinya. Membaca kesempatan, menajamkan renungan untuk mendapatkan hikmah-hikmah yang masih tersegel dalam ruang kehidupan. Sebuah nama baginya tidak cukup diartikan sebagai perkenalan. Saling bertukar pengalaman lewat canda dan tulisan selalu dia harapkan. Dia benar-benar sosok penyemangat. Sepatah kata pun baginya menjadi satu hal yang berharga dari siapapun yang dia ajak bicara. Sependek waktu yang dia lalui semakin bermanfaat saat mampu berbagi pemikiran kepada orang lain. Satu hal terpenting ada pada orang ini adal...

Ujian Dalam Nikmat Al-Qur'an (habis)

Oleh: Fattah Alfarhy Al-Qur'an tersusun indah dalam segala sisinya yang ada. Ia turun sebagai wahyu terakhir bagi utusan terakhir pula, yakni Muhammad Saw. Kemurnian Al-Qur'an akan senantiasa terjaga di segala tempat sepanjang masa. Oleh Allah bersama orang-orang pilihan, ia menjadi istimewa bagi pemiliknya. Al-Qur'an juga menjadi anugerah terbesar bagi umat sejagat raya. Seruan kebenaran yang terkandung di dalamnya tidak memandang siapa pembacanya. Sehingga, jalan kedamaian akan menghampiri siapa pun yang mendapatinya sebagai petunjuk. Susunan kalam berkelas yang tiada tertandingi membias bagai mutiara yang mempesona. Siapapun akan terpana oleh keindahannya dalam segala kesempatan. Karenanya, Al-Qur'an tiada duanya dengan yang lainnya. Tiada satu pun makhluk yang mampu menciptakan tandingan baginya. Ia adalah pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Ia adalah petunjuk umat sepanjang masa. Kehadirannya menjadi cahaya penerang segala kegelapan dunia. Jika Al-Qur'an...

Ujian Dalam Nikmat Al-Qur'an (4)

Oleh: Fattah Alfarhy Al-Qur'an yang telah dihafal menjadi tanggung jawab penghafalnya. Muraja'ah --mengulang-ulang-- hafalan itu wajib hukumnya. Jika tidak diulang sampai berakibat lupa orangnya berdosa. Betapa beratnya tanggung jawab mereka. Namun, demikian halnya berat upaya yang dilakukan sebanding dengan pahala yang didapatkannya. Sebegitu besarnya, sampai berlipat ganda. Satu huruf mendapat 10 kebaikan sebagai pahala bacaan Al-Qur'an. Terbayang jika ayat "basmalah" saja sudah 19 huruf, itu berarti dapat 190. Jika dalam sehari saja bisa 1 juz, berapa banyak itu huruf yang bisa dikalikan dengan 10 kebaikan. Pahala membaca Al-Qur'an itu sangatlah besar. Besarnya itu sebanding dengan berat yang dipikul penjaga Al-Qur'an. Antara pahala dan dosa dipertaruhkan oleh mereka. Jika mereka mau menjaganya secara istiqomah, pahala pasti didapatnya. Jika mereka tidak muraja'ah sampai melupakan kewajibannya, dosa pasti menimpanya. Tentunya, pahala sesuai dengan...

Ujian Dalam Nikmat Al-Qur'an (3)

Oleh: Fattah Alfarhy Juz 'Amma mengawali perjuangan tiap penghafal Al-Qur'an. Surah-surah pendek yang termuat di dalamnya menjadi pintu gerbang masuk ke hafalan selanjutnya. Juz 'Amma merupakan sebutan lain bagi juz 30 dalam Al-Qur'an. Nama tersebut akrab karena juz 30 diawali dengan kata 'Amma pada surah An Naba'. Akan tetapi, hafalan akan dimulai dari surah An Nas yang berada paling akhir di mushaf Al-Qur'an. Al Falaq menjadi lanjutannya secara urut sampai An Naba' sebagai penutupnya. Seseorang yang diberi kemudahan hafal juz 'Amma, kemungkinan akan mudah untuk menghafal juz selanjutnya. Menghafal juz 30 merupakan langkah awal untuk menguji seberapa kuat hafalan seseorang. Jika dapat selesai lebih kurang satu bulan, itu pertanda kekuatan hafalannya normal. Namun, jika melebihi dari 2-3 bulan perlu dipertanyakan kesungguhan menghafalnya. Walau demikian, hafal juz 30 tidak boleh dijadikan jaminan penuh untuk kemudahan hafalan juz lainnya. Niat dan...

Ujian Dalam Nikmat Al-Qur'an (2)

Oleh: Fattah Alfarhy Khatam Al-Qur'an sekali kepada seorang guru ngaji adalah sebuah anugerah. Upaya yang dilakukan tidak sia-sia. Berangkat tiap sore menjelang Magrib ke tempat pengajian jadi rutinitas. Selesai menyetor kepada kyai kampung terasa lega. Betapa senangnya usai menyetor bacaan Al-Qur'an tanpa hambatan. Itu semua tidak lepas dari jeri payah belajar di siang harinya. Karena itu, kelancaran membaca Al-Qur'an menjadi satu buah manis kemauan belajar. Jika tiap hari dapat dijalani, Allah pasti memudahkan jalan untuk menguasai kemampuan baca Al-Qur'an. Dimarah-marah saat belajar Al-Qur'an itu biasa. Mulai ketika belajar di hadapan ibu sendiri sampai ketika di pondok. Belajar di hadapan kyai atau ustadz Al-Qur'an terasa lebih menakutkan. Takut itu muncul karena rata-rata guru Al-Qur'an itu ketat dan galak. Kedengarannya mengerikan, tapi semua tentu demi kedisiplinan dan kebaikan ke depannya. Al-Qur'an itu bukan kitab biasa. Untuk mempelajarinya t...

Ujian Dalam Nikmat Al-Qur'an (1)

Oleh: Fattah Alfarhy "Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya." QS. Al Hijr [15]: 9 Menjaga Al-Qur'an itu tugas mulia. Ketika ada orang sanggup menjaga Al-Qur'an, dia berarti ikut serta bersama Allah. Ayat di atas buktinya. Allah yang menurunkan Al-Qur'an dan Dia pula yang menjaganya. Di dalam penjagaan itu, Allah melibatkan manusia. Sehingga, Al-Qur'an tidak saja terjaga secara batiniah tapi juga proses lahiriah dilakukan oleh manusia. Semua diupayakan demi menjaga kemurnian isi dan kandungan Al-Qur'an. Setiap penjaga Al-Qur'an pasti bukan orang sembarangan. Dan juga otomatis dia satpam pilihan Allah. Mereka dikenal sebagai Huffazh Al-Qur'an. Kata Huffazh itu jama' dari mufrad Hafizh, yang berarti penjaga. Ada pula yang berarti penghafal. Kedua makna itu bisa terjadi karena konteks kalimatnya. Jadi, Hafizh Al-Qur'an itu simpelnya penjaga Al-Qur'an. Dengan menghafalkan Al-Qur'an it...