Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Harus Tetap Mengaji (Sebuah Cerpen)

Oleh:  Fattah Alfarhy Siang ini terik panas matahari sangat menyengat kulitku. Aku hampir tak tahan dengan keadaan ini yang menyiksa. Panas dan rasa haus melengkapi penderitaanku. Sementara, pelajaran Matematika belum terlihat tanda-tanda berakhirnya. Pikiranku kian melemah dan serasa tak sanggup lagi menghitung perkalian bilangan kecil sekalipun. Rumus-rumus itu semakim merumitkan pikiran sehatku. Dalam benakku hanya satu, "Kapan pulang, pulang dan pulang?" Aku sudah tidak tahan. Ku pandangi berkali-kali jam tangan pink mungilku. Jarumnya lama sekali tampak tak bergerak, perasaan ini melayang-layang semakin aneh. Rasanya sudah tidak tahan duduk di tempat ini. "Ya Allah, cobaan ini begitu berat bagiku. Pelajaran Matematika di jam terakhir sekolah." Tiba juga pukul 14.00, bel tanda pulang sudah berbunyi. Riuh teriakan teman-teman sekelasku mengakhiri kegiatan kelas hari ini. Rasa ceria dan lega tampak dari raut wajah mereka. Panas terik matahari seak...

Ilmu dalam Catatan

Oleh: Fattah Alfarhy Setiap orang berkesempatan sama untuk mendapatkan ilmu. Dia berhak mencari ilmu kapan saja. Di mana saja ada kebaikan, kapan saja ada hikmah patutlah untuk didengar dan dicatat dalam buku. Kewajiban mencari ilmu tidak lantas membiarkan orang belajar tanpa cara terbaik dari gurunya. Seorang pencari ilmu sejati pasti mengenal dan selalu mencoba cara belajar yang efektif baginya. Membaca dan menulis adalah dua cara terbaik dalam merekam jejak ilmu pengetahuan. Berbagai macam informasi tentang ilmu dan hikmah layak untuk didokumentasi dalam kumpulan catatan. Membaca adalah keniscayaan bagi setiap pencari ilmu. Sementara menulis adalah nyawa yang mengikat bacaan yang telah merasuk ke jiwa. Maka, bacaan adalah asupan akal yang memerlukan gizi sehat dan berarti. Saat membaca, mata akan menjadi bersinar karena tarian huruf-huruf yang menganga bagai api. Saat kalimat demi kalimat terucap dalam hati, maka tangan pun harus bergerak mengikuti langkah pikiran yang berjalan. D...

Guru Ngaji

Oleh: Fattah Alfarhy Teringat di masa kecil, saat waktu menjelang Magrib. Lima belas menit lagi adzan akan berkumandang. Tampak dari kejauhan anak-anak berbaris dengan rapinya membawa kitab Turutan dalam dekapannya. Mereka berjalan penuh suka cita. Sesampainya di Musholla, mereka bergegas membantu teman-teman lainnya yang sedari tadi gotong royong mengisi bak tempat air wudlu. Tampak sudah cukup untuk dipakai wudlu para jama'ah shalat Magrib dan Isya', mereka pun menghentikan aktifitasnya. Satu dari mereka segera meraih mikrofon lusuh yang sudah penuh bisikan saat bersuara. Adzan pun berkumandang olehnya. Merdunya suara anak kecil itu. Para jama'ah pun bertanya-tanya, "Anak siapa itu? Alangkah indahnya, lantunan adzan yang dibawakannya." Semua bergegas memenuhi barisan shaf terdepan selepas berwudlu. Sembari menunggu imam, mereka bersama-sama melantunkan lagu-lagu Islami yang penuh makna. Orang menyebutnya sebagai "puji-pujian" yang bermuatan seruan-se...

Meraih Bahagia Penuh Makna

Foto: Ilustrasi (ummi-online.com) Oleh: Fattah Alfarhy "Hidup sekali, hendaknya hidup yang bermakna," Dr. KH. A. Hasyim Muzadi Sebuah perjuangan itu bermakna. Jika hidup itu perjuangan, maka kehidupan itu harus dimaknai dalam setiap langkahnya. Segala potensi suka dan duka yang terjadi menjadi bagian penting di dalamnya. Maka, bahagia adalah satu hal dan kesedihan adalah satu hal yang lain. Namun, di dalam perjalanannya keduanya bersandingan tanpa batas dan kemungkinan-kemungkinan. Kesusahan itu pasti dan bahagia menjadi bagiannya. Dua hal ini tidak dapat terpisah satu sama lainnya. Meskipun dalam realitas bertolak belakang dan berbeda. Di dalam al-Quran, kesusahan diwakili dengan kata al-'Usr. Sementara kebahagiaan diwakili dengan al-Yusr yang oleh kebanyakan terjemahan memberi makna kemudahan. Hematnya, yang mudah itu ringan. Tentunya kebahagiaan itu bukan sesuatu yang berat. Justru kemudahan itulah interpretasi dari kebahagiaan itu sendiri. Sehingga...

Gemar Membaca, Susah Nulisnya

Foto: Ilustrasi (news.okezone.com) Oleh: Fattah Alfarhy Manusia tercipta sebagai makhluk paling luar biasa di dunia ini. Dia mendapatkan aneka keistimewaan yang sangat berbeda dengan makhluk yang lainnya. Sehingga dia mendapatkan amanah yang begitu besar sebagai khalifah di bumi ini. Segala sesuatu harus dipelajari untuk mengatur dan mengolah isi bumi. Dia perlu banyak informasi dan aneka pengetahuan sebagai bekal hidup di bumi ini. Wahyu pertama turun berkenaan dengan perintah untuk membaca. Bacaan bukan hanya yang terkait dengan sesuatu yang tersurat saja melainkan berbagai hal yang tersirat di alam raya ini haruslah dibaca sekaligus untuk dipahami secara mendalam. Bacalah apa saja yang terdapat di alam raya ini. Karena itulah membaca tak cukup hanya mengingat apa yang tertulis, namun hal yang tak kalah penting dari membaca adalah memahami isi kandungan bacaan tersebut untuk kemudian dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ada pepatah mengatakan, “ membaca ...

Menjadikan Lima Menit Penuh Makna

Foto: Ilustrasi Oleh: Fattah Alfarhy "Salah satu tanda kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermakna (baginya)." Al-Hadis Setiap orang punya cara masing-masing untuk menikmati hidupnya. Bukan sekedar hidup biasa, melainkan yang penuh makna. Tiap langkah dihargai dengan mimpi. Tiap kata dimaknai motivasi. Setiap ada masalah dijadikan senjata untuk melawan kemalasan diri sendiri. Adakalanya seseorang lebih fokus pada hobi. Ada pula yang lebih khusyu' mendekat ilahi. Semua itu dilakukan atas dasar rasa syukur segala nikmat yang tak terkira. Kala mengalami kesedihan, dia berusaha tersenyum kepada siapapun yang dijumpa. Saat hati gembira dia selalu berbagi dengan siapa saja. Ini pertanda seorang dermawan yang periang. Dia tak ingin menyusahkan orang. Namun, dia selalu ingin orang lain bahagia karenanya. Berpikir bijak untuk melandasi sikap dan tindakan yang sesuai dengan norma dan nilai ajaran. Segalanya menjadi mudah...

Menulis Cerita yang Berperan

Foto: Ilustrasi (iics.sch.id) Oleh: Fattah Alfarhy Cerita itu pesan. Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menyampaikan idenya. Dia berhak bercerita dengan gaya khasnya. Sajiannya pun bisa disampaikan dalam bentuk lisan maupun tulisan. Namun, lebih banyak kesan menariknya bila cerita itu dituliskan. Hadirlah sebuah sajian cerita disebut cerpen. Cerita itu dapat sesuka hati penulis sampaikan dalam bentuk kisah nyata maupun tidak. Fiksi atau nonfiksi. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saat berbicara tentang kenyataan, menantang pembaca untuk lebih kritis dalam sikapi fakta di dalamnya. Berbeda dengan fiksi yang mampu membawa pembacanya mengarungi dunia fantasy sedalam-dalamnya. Siapa suka, dia berhak mencobanya satu per satu. Mana kiranya nanti yang lebih menarik. Cerita yang menarik adalah bila mampu menghadirkan pembaca masuk ke dalam suasana cerita tersebut. Saat si tokoh mengalami kesedihan, pembaca bisa menangis sejadi-jadinya. Be...

Bijak itu Belajar dari Mana pun

Foto: Ilustrasi (pendidikankarakter.com) Oleh: Fattah Alfarhy "A wise person knows that there is something to be learned from everyone." Seorang bijak selalu dicari orang. Dia juga takkan berhenti belajar pada satu orang saja. Satu masalah baginya tidak cukup ditafsirkan oleh persepsi dari satu sumber saja. Selalu mencari celah untuk mengembangkan sesuatu yang telah dia baca, dengar dan tuliskan. Dia benar-benar seorang pembelajar sejati. Prinsip yang begitu kuat tertanam dalam dirinya. Membaca kesempatan, menajamkan renungan untuk mendapatkan hikmah-hikmah yang masih tersegel dalam ruang kehidupan. Sebuah nama baginya tidak cukup diartikan sebagai perkenalan. Saling bertukar pengalaman lewat canda dan tulisan selalu dia harapkan. Dia benar-benar sosok penyemangat. Sepatah kata pun baginya menjadi satu hal yang berharga dari siapapun yang dia ajak bicara. Sependek waktu yang dia lalui semakin bermanfaat saat mampu berbagi pemikiran kepada orang lain. Satu...