Langsung ke konten utama

Berawal Dari Niat

Oleh: Fattah Alfarhy

"Tidak semua yang kau inginkan harus tercapai. Tanpa niat, semua hanyalah angan dan akan terbang bersama waktu yang takkan berulang." Fattah Alfarhy

Setiap orang berhak menggantungkan cita-citanya setinggi mungkin. Ada pepatah mengatakan, "gantungkan cita-citamu setinggi langit" turut menjadi legitimasi hal tersebut. Segala keinginan yang terlintas dari sumber mana pun selalu berhenti dalam pikiran saja. Namun, pada akhirnya hanya menjadi angin yang keluar dari lisan yang terlihat suci. Tanpa disadari, segala bualan itu pun menjadi sebuah kebiasaan mewarnai hari-hari. Karenanya, untuk sebuah keinginan tidak perlu berburu-buru mengatakannya, agar tidak kecewa di kemudian hari.

Ada saja kemauan yang terhalang oleh kepentingan. Sebaliknya, kepentingan pula dapat menjadi sebuah ide awal untuk terciptanya keinginan yang dilandasi kemauan yang begitu kuat. Hanya karena satu tujuan tertentu, keinginan itu menjadi hal yang patut untuk diperjuangkan. Setiap kemungkinan-kemungkinan yang hadir dalam kehidupan menjadikannya sebuah kisi-kisi kemauan yang akan dituruti pada masa selanjutnya.

Kelanjutan dari keinginan tidak cukup dengan perkataan yang telah terang oleh lisan. Keberpihakan akal atas hati yang terkadang berbalik, menjadi pertanda inkonsistensi hati setiap insan. Tidak saja manusia itu pelupa, mereka juga sering ragu dalam menentukan nasibnya. Akibatnya, Ia seringkali terjebak dalam pilihan-pilihan yang sulit ditentukan. Padahal, semuanya merupakan hal-hal yang pernah diinginkannya. Jika hanya ingin, dan tak mungkin untuk terjadi oleh tangannya mengapa mesti dipikirkan dan dijadikan angan-angan?

Agaknya, perlu untuk mengadakan perjanjian ulang dengan diri masing-masing sebelum mengambil itu sebagai sebuah keputusan. Ajaran tentang niat tidak boleh ditinggalkan. Walaupun hanya berupa kebiasaan-kebiasaan positif yang mengakibatkan cita-cita menjadi kuat, niat juga perlu ditegaskan dalam awal pekerjaan. Tidak cukup dituturkan dengan lisan, walau dengan teriakan yang keras. Niat dalam hati justru lebih mulia, daripada yang ditampakkan dan ditunjukkan kepada khalayak ramai. Karena, pada akhirnya kecewa dan penyesalan dirasakan sendiri dan orang-orang lain menjadi penontonnya. 

Untung saja, kalau mendoakan untuk harapan lebih baik dari kegagalan dari sekian harapan. Namun, lebih menyakitkan meskipun tanpa diketahui, ketika mereka hanya tertawa tanpa tanda bersalah. Antisipasi terbaik untuk hal seperti ini, patut direnungkan guna menetapkan niat terbaik sebelum akhirnya mengetahui kecil kemungkinan untuk tercipta. Maka, alangkah baiknya kita belajar dua hal dari Nabi Saw., yakni terkait dengan awal yang baik untuk keinginan dan tentang kebaikan seorang muslim dalam menjalani hidupnya.

"Segala sesuatu berawal dari niat," Al Hadis

Hadis ini secara tegas menyatakan bahwa semua urusan, segala keinginan, hingga harapan-harapan harus disertai dengan niat. Urusan pekerjaan akan menjadi berkah, walaupun setidaknya menjadi sah ketika berkaitan dengan ibadah mahdlah, seperti shalat, puasa dan ibadah fardlu lainnya. Ketika hendak makan, diniatkan karena ibadah diawali dengan basmalah, Insya Allah berkah dan bernilai ibadah. Akan tetapi, niat menjadi syarat sahnya suatu urusan yang berkaitan erat dengan ibadah. Baik itu berhubungan dengan ritual sebelum ibadah, seperti wudlu dan sebagainya, maupun urusan dalam ibadah itu sendiri.

Di sinilah kedudukan niat. Amat penting dilakukan dan terucap oleh lisan sebagai penegak berjalannya suatu pekerjaan. Di samping itu niat juga menunjukkan keseriusan dalam melakukan amalan, yang bersifat ibadah atau non ibadah. Selama itu berupa kebaikan, niat akan selalu membawa keberkahan terhadap hal tersebut. Karena, amal kebaikan yang disertai niat akan menuai pahala sepuluh kebaikan. Bahkan, niat baik pun sudah tercatat dalam satu pahala meskipun belum sempat terlaksana.

"Termasuk ciri baiknya keislaman seseorang, ialah meninggalkan urusan yang tidak ada faedah untuknya," Al Hadis

Sedangkan, hadis ini memberikan frame untuk kebaikan seorang muslim yang tergantung pada sikapnya. Ketangguhan meninggalkan sesuatu yang un-faedah baginya merupakan satu jalan untuk menentukan kedudukannya di hadapan orang lain. Rasulullah Saw. melalui hadis ini, mengajarkan kita agar lebih mawas diri dalam melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan keseharian. Tidak mungkin asal melakukan dan meniatkan perbuatan yang baik menurut pribadinya. Karena itulah, kegiatan harian yang baik harus disertai dengan niat yang baik. Hal itu berguna, untuk menjadi ruh dalam kegiatan kebaikan yang hendak dilakukan dan memungkinkan untuk dilakukan.

Dengan demikian, setiap pekerjaan itu membutuhkan niat. Kebaikan yang terlintas dalam setiap pikiran manusia harus diikat dengan niat, yang ibarat janji setia pekerjaannya. Karena itu, kebaikan tidak boleh asal terjadi. Ada baiknya berpikir sebelum bertindak. Pikiran itu berupa niat yang baik, sedangkan praktiknya menjadi kesetiaan terhadap harapan dan hal yang pernah terucap oleh lisannya sendiri. Sehingga, pekerjaan baik jangan sampai bernilai biasa-biasa saja jika tanpa niat yang melandasinya. Selain perlu niat, amal kebaikan harus menunjukkan karakter seorang muslim yang sejatinya tidak suka melakukan hal-hal yang tanpa nilai dan un-faedah bagi dirinya.

Wates, 09 Juli 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara Sekian Anomali Kuasa

Selama ini, mungkin sulit untuk memahami realitas. Karena, pada prinsipnya melihat itu sudah cukup. Anomali yang tercipta secara organik gagal terbaca oleh sekian ribu mata yang tak teliti. Mereka bisa bilang, "Karena belum ada yang menyatakan hal tersebut." Namun, apapun adanya dalam setiap fenomena tentu ada sikap sebagai perwakilan pandangan. Tidak menyebut siapa yang benar dan apa yang dikatakan. Semua kembali pada basis semesta yang natural. Lain halnya, jika dikembalikan kepada keraguan akan berhenti pada fanatisme semata. Lalu, apa yang terlihat oleh sepasang mata dan pikiran personal? Ada yang bilang, "Itu dikembalikan kepada kondisi sosial dan politik yang berlaku. Tidak lazim memulangkan kepada kesimpulan spontan para pasukan sorak gembira." Beginilah satu dari sekian wajah klasifikasi kerutan kain perdamaian. Tidak ada yang mengira seseorang yang pernah berkata ini, akan berkata lain di waktu yang berbeda. Dan pada akhirnya, semua berteriak ada kuasa d...

Kala Menulis Bingung Mencari Judul

Oleh: Fattah Alfarhy Penulis itu, ya menulis. Kalau membaca terus, kapan nulisnya? Tapi, menulis tanpa bacaan terus kapan berkembangnya? Agaknya pertanyaan-pertanyaan ini selalu menghantui para penulis. Terlebih penulis pemula semacam saya, Anda, atau mungkin banyak orang di luaran sana yang berkeinginan menulis, tapi tidak lekas menulis. Mereka cuma mengumpulkan teori, tanpa segera mempraktikkan. Dan pada akhirnya keinginan itu hanya menjadi bualan saja. Manusia memiliki jatah waktu yang sama dalam sehari semalam. Setiap kita dijatah 24 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Setiap kita punya kesibukan masing-masing menurut profesi yang digeluti. Semuanya berjalan tanpa halangan dan baik-baik saja. Tapi, rasanya menyisakan waktu sedikit untuk menulis kok berat ya. Padahal, untuk sebuah kata tinggal dipikir direnungkan lalu ditulis dan selesai. Kenapa sulit sekali kebiasaan itu diwujudkan dalam keseharian. Lagi-lagi kesibukan dijadikan alasan. Di saat pikiran sedang mood, rasanya fresh ...

Prinsip-prinsip Dalam Menulis

Oleh: Fattah Alfarhy Perlu dipahami oleh kita semua para penulis pemula, atau bahkan yang sudah sering nampang di media massa bahwa dalam menulis itu ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan. Besar kemungkinan jika prinsip-prinsip tersebut diikuti, kita tidak akan kebingungan untuk menulis. Hasil tulisan itulah nantinya yang akan membawa prinsip-prinsip ke hadapan pembaca. Lalu apa saja prinsip-prinsip yang ada pada proses menulis? Pertama, prinsip kebenaran. Menulis harus dilandasi untuk menyampaikan kebenaran. Bukan sekadar benar untuk diri sendiri. Tapi, kebenaran yang disampaikan melalui tulisan sebisa mungkin agar bisa mempengaruhi orang lain. Jika hal itu dapat terpenuhi, maka tulisan tersebut bisa jadi amal jariyah bagi si penulis. Secara tidak langsung, jika pembacanya melakukan kebaikan seperti yang telah dituliskan maka penulisnya akan mendapat aliran pahala. Karena, dia berhasil mempengaruhi para pembaca melalui tulisan yang dipublikasikannya. Kedua, prinsip kebermanfa...