Oleh: Fattah Alfarhy
Seorang pencari ilmu tidak hidup sendirian. Ia memiliki teman sekaligus anggota keluarga yang tidak boleh disakiti dan bersikap jahat kepada mereka. Jika duduk bersama mereka untuk belajar, berikanlah ruang sebagai tempat duduk yang nyaman untuknya agar dapat belajar bersama-sama. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Wahai orang-orang yang beriman, bila dikatakan padamu: berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meningginkan derajat orang-orang yang menuntut ilmu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." QS. al Mujadalah [58]: 11.
Seandainya ada teman yang mengalami kesulitan dalam belajar, dan bertanya kepada guru, hendaknya turut serta mendengarkan jawaban dari guru. Barangkali hal ini lebih bermanfaat yang sebelumnya tidak terkira. Karena itu, jangan sampai berkata suatu hal yang dapat menyinggung dan menghina teman, atau sekilas menunjukkan wajah yang kurang berkenan atas pertanyaan tersebut.
Pada suatu ketika, Imam Abu Hanifah ditanya: "Apa sebabnya ilmu dapat tersampaikan kepadamu?" Ia pun menjawab: "Aku tidak malas untuk mengambil manfaat dan tidak pernah menghalangi orang lain yang ingin belajar dariku."
Dilarang kepada setiap orang untuk menghalangi orang-orang yang mencari ilmu. Sebagai contohnya, ketika mereka bertanya kepada guru tentang hal yang belum diketahui, maka sebaiknya turut serta mendengarkan jawaban untuk hal tersebut sekali pun telah mengetahuinya.
Teman yang berada satu asrama merupakan saudara yang tidak boleh diganggu rasa nyamannya. Bila waktu istirahat tiba, jangan diganggu dengan aktifitas belajar bukan dalam waktunya. Boleh saja belajar, asal tidak sampai mengganggu kenyamanan yang lainnya. Saat telah tiab waktu fajar, bangun tidur lebih dulu, hendaknya turut membangunkan mereka agar dapat shalat berjamaah bersama. Karena, shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan pahala 27 derajat. Bahkan, suatu ketika ada teman yang membutuhkan pertolongan, sempatkanlah untuk menolongnya dengan senang hati. Karena, rasulullah Saw. bersabda:
المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا
"Orang mukmin terhadap mukmin lainnya, itu ibarat suatu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan." HR. Bukhari, Muslim, Turmudzi dan Nasai.
Sumber: Kitab Washoya al-Aba' li al-Abna'
Komentar
Posting Komentar