Langsung ke konten utama

Berbakti Kepada Orang Tua

Oleh: Fattah Alfarhy

Pada hakikatnya, berbakti kepada orang tua lebih berat daripada sekedar yang kebanyakan orang pikirkan. Dalam kata lain, berbakti kepada orang tua yang populer dengan istilah birr al-walidain menjadi suatu kewajiban bagi setiap anak. Sebagaimana telah ditegaskan Allah dalam QS. al Isra' [17]: 23-24.

"Maka janganlah kamu katakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Rendahkanlah sayapmu (tangan) di hadap keduanya seraya berdoa: "Wahai Tuhanku, kasihanilah kedua orang tuaku sebagaimana keduanya mengasihani aku di waktu kecil." QS. al Isra' [17]: 23-24.

Berangkat dari ayat di atas, kita perlu belajar dari contoh seorang anak kecil dan kedua orang tuanya. Betapa besar kasih sayang orang tua yang bersusah payah mengorbakan waktu untuk anaknya. Lihatlah ketika keduanya memikirkan makan dan minumnya, berupaya untuk kesehatannya, menjaganya sepanjang hari, baik di kala sehat maupun sehat. Seperti itulah beratnya tanggung jawab orang tua dalam mendidi dan membesarkan anak-anaknya hingga tumbuh dewasa.

Saat ini, tentu kita menjadi tahu bahwa Allah telah menunjukkan jalan terbaik untuk kita, supaya tidak mengkufuri nikmat yang telah diberikan Allah kepada orang tua. Kalau tanpa adanya keduanya maka tidak mungkin kita mampu duduk di tempat mulia ini bersama-sama para pencari ilmu lainnya. Demi anak-anaknya tercinta, tentu orang tua tidak pernah berpikir seberapa harta dihabiskan. Namun, mereka tetap akan tetap berusaha untuk keberhasilan anak-anaknya di masa depan.

Setiap orang tentu berharap untuk menggapai cita-cita tertinggi dalam perjalanan karier hidupnya. Tiada orang yang berkeinginan menjalani kehidupan ini mengalir apa adanya, tanpa usaha dan tujua yang mulia. Dalam hal ini, tentunya orang tua berharap kesuksesan untuk anak-anaknya melebihi ekspektasi orang orang tuanya. Namun, yang terpenting ialah kedudukan yang dicapai mendapat sambutan baik dan bermanfaat untuk sesama, di samping pula mendapat ridho Allah Swt. Karena itu, kita seharusnya memberi sesuatu terhadap mereka yang telah mendahulukan kepentingan pribadinya demi cita-cita terbaik yang melebihi harapan kita sendiri.

Sebagai anak, tentu dilarang untuk menjadikan orang tua murka karena suatu hal. Ketika keduanya marah murka, itu pertanda menjadi murka Allah juga. Jika sampai ini terjadi, akan menjadi kerugian besar bagi seorang anak di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, taat kepada perintah orang tua merupakan suatu kewajiban mutlak, terkecuali dalam urusan maksiat kepada Allah yang tidak boleh ditaati. Dalam hadis dijelaskan, bahwa: "Tiada ketaatan kepada makhluk dalam urusan maksiat kepada Allah." HR. Ahmad dan Hakim. Dalam hal ini, Allah juga menegaskan dalam QS. Luqman [31]: 14-15.

Dengan demikian, perlu ditegaskan dalam diri sendiri bahwa orang tua memiliki rasa cinta yang begitu besar terhadap anaknya. Faktanya, mereka telah berkorban segalanya untuk membesarkan dan merawat anak dari kecil hingga tumbuh dewasa, mendidik dan mengarahkan anak untuk belajar ilmu agama, serta urusan kebaikan lainnya. Karena itulah, tiada alasan lagi untuk tidak taat dan mendengarkan nasihat keduanya yang lebih mengerti urusan masa depan dan apa yang terbaik untuk buah hati.

Sumber: Washoya al-Aba' li al-Abna'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Antara Sekian Anomali Kuasa

Selama ini, mungkin sulit untuk memahami realitas. Karena, pada prinsipnya melihat itu sudah cukup. Anomali yang tercipta secara organik gagal terbaca oleh sekian ribu mata yang tak teliti. Mereka bisa bilang, "Karena belum ada yang menyatakan hal tersebut." Namun, apapun adanya dalam setiap fenomena tentu ada sikap sebagai perwakilan pandangan. Tidak menyebut siapa yang benar dan apa yang dikatakan. Semua kembali pada basis semesta yang natural. Lain halnya, jika dikembalikan kepada keraguan akan berhenti pada fanatisme semata. Lalu, apa yang terlihat oleh sepasang mata dan pikiran personal? Ada yang bilang, "Itu dikembalikan kepada kondisi sosial dan politik yang berlaku. Tidak lazim memulangkan kepada kesimpulan spontan para pasukan sorak gembira." Beginilah satu dari sekian wajah klasifikasi kerutan kain perdamaian. Tidak ada yang mengira seseorang yang pernah berkata ini, akan berkata lain di waktu yang berbeda. Dan pada akhirnya, semua berteriak ada kuasa d...

Kala Menulis Bingung Mencari Judul

Oleh: Fattah Alfarhy Penulis itu, ya menulis. Kalau membaca terus, kapan nulisnya? Tapi, menulis tanpa bacaan terus kapan berkembangnya? Agaknya pertanyaan-pertanyaan ini selalu menghantui para penulis. Terlebih penulis pemula semacam saya, Anda, atau mungkin banyak orang di luaran sana yang berkeinginan menulis, tapi tidak lekas menulis. Mereka cuma mengumpulkan teori, tanpa segera mempraktikkan. Dan pada akhirnya keinginan itu hanya menjadi bualan saja. Manusia memiliki jatah waktu yang sama dalam sehari semalam. Setiap kita dijatah 24 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Setiap kita punya kesibukan masing-masing menurut profesi yang digeluti. Semuanya berjalan tanpa halangan dan baik-baik saja. Tapi, rasanya menyisakan waktu sedikit untuk menulis kok berat ya. Padahal, untuk sebuah kata tinggal dipikir direnungkan lalu ditulis dan selesai. Kenapa sulit sekali kebiasaan itu diwujudkan dalam keseharian. Lagi-lagi kesibukan dijadikan alasan. Di saat pikiran sedang mood, rasanya fresh ...

Prinsip-prinsip Dalam Menulis

Oleh: Fattah Alfarhy Perlu dipahami oleh kita semua para penulis pemula, atau bahkan yang sudah sering nampang di media massa bahwa dalam menulis itu ada prinsip-prinsip yang harus diperhatikan. Besar kemungkinan jika prinsip-prinsip tersebut diikuti, kita tidak akan kebingungan untuk menulis. Hasil tulisan itulah nantinya yang akan membawa prinsip-prinsip ke hadapan pembaca. Lalu apa saja prinsip-prinsip yang ada pada proses menulis? Pertama, prinsip kebenaran. Menulis harus dilandasi untuk menyampaikan kebenaran. Bukan sekadar benar untuk diri sendiri. Tapi, kebenaran yang disampaikan melalui tulisan sebisa mungkin agar bisa mempengaruhi orang lain. Jika hal itu dapat terpenuhi, maka tulisan tersebut bisa jadi amal jariyah bagi si penulis. Secara tidak langsung, jika pembacanya melakukan kebaikan seperti yang telah dituliskan maka penulisnya akan mendapat aliran pahala. Karena, dia berhasil mempengaruhi para pembaca melalui tulisan yang dipublikasikannya. Kedua, prinsip kebermanfa...