Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Rukun Dalam Perbedaan

Oleh: Fattah Alfarhy Duduk di tepi pantai mengajarkan kita tentang kesatuan alam yang sangat serasi. Kerukunan antara bumi, air dan udara menjadi terasa lengkap saat cahaya di ufuk Barat itu semakin redup tinggalkan warna yang indah. Sunset, orang bilang begitu indah sesaat sebelum waktu benar-benar Maghrib. Menunjukkan kepada kita betapa luas pandangan mata menyusuri lautan yang bertepikan langit biru. Kini, langit itu ada di hadapan mata. Ia menyatu bersama lautan. Sebuah kehidupan yang indah. Perbedaan yang tidak menjadi pemisah antara keduanya. Laut dan langit itu menunjukkan keserasian alam yang sungguh luar biasa. Saat detik-detik matahari meninggalkan keduanya, pertanda kegelapan akan segera datang. Namun, sisa-sisa cahaya itu melukiskan indahnya alam yang tercipta dari aneka perbedaan. Tidak hanya langit, laut dan bumi yang merasakannya. Di saat matahari benar-benar meninggalkan mereka, kegelapan membawa suasana tentram pertanda waktu Magrib telah tiba. Saatnya man...

Sekolah Pendengar

Oleh: Fattah Alfarhy Sejenak kita berpikir tentang dunia pendidikan. Tidak perlu membahas soal sistem pendidikan yang rumit. Tidak usah terlalu gegabah menyebut pendidikan yang mundur dan sebagainya. Namun, justru perlu bertanya kepada diri sendiri tentang kesiapan menjadi pendengar bijak. Agaknya berlebihan, tapi semoga bisa menjadi sentilan ringan bagi kita semua. Tanpa memandang kedudukan sebagai guru, orang tua dan murid. Bicara mengenai sekolah, semua pernah menjadi bagian di dalamnya. Entah sebagai murid, pengurus, tukang kebun sampai menjadi guru yang selalu setia memberi ilmu di sekolah. Tanpa guru dan murid, apa mungkin sekolah itu berjalan. Sekolah menjadi hidup dengan kehadiran orang-orang di dalamnya. Dengan kehadiran mereka sistem pendidikan di sekolah itu berjalan. Setidaknya bukan sekadar memberikan pelajaran 1+1 = 2. Lebih dari itu, sekolah menjadi rumah istimewa untuk transformasi ilmu kepada para pembelajar sejati. Tak peduli guru atau murid, sekolah me...

Mendidik Orang Mendengar

Oleh: Fattah Alfarhy Dunia pendidikan itu luas. Saking luasnya, terkadang menjadikannya cukup dilihat dari sisi saja. Masib banyak yang menganggap mendidik itu harus menghasilkan kepandaian. Jika murid tidak pandai-pandai, maka pendidikan dinilai gagal. Kegagalan itu dinilai sebagai penghambat kemajuan kualitas pendidikan. Barangkali itu menjadi satu pandangan sempit terhadap eksistensinya. Namun, dalam perspektif lebih luas seharusnya pendidikan dipandang sebagai way of change . Pendidikan bukan sekadar mentransformasikan ilmu pengetahuan oleh guru ke murid. Justru pendidikan merambah segala ruang perubahan yang menjadikan hidup lebih baik. Mengajar memiliki arti lebih sempit daripada mendidik. Mengajar berasal dari istilah Arab ta'lim yang cenderung memiliki obyek lebih sempit. Maka, proses mengajar terkesan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan saja. Istilah ilmu memiliki akar kata yang sama dengan ta'lim . Keduanya berasal dari kata 'alima ('ain-lam-mim) yang ...

Menebar Hikmah, Meraih Berkah

Oleh: Fattah Alfarhy Zaman sekarang sudah beda dengan zaman baheula. Kalau dulu, orang diberi nasihat didengar. Tidak cukup sampai di situ, nasihat itu ditancapkan dalam hati. Kemudian suatu saat akan disampaikan sebagai hikmah. Karena suatu peristiwa yang terjadi atas kelalaian manusia, hikmah sering dinanti sebagai penawarnya. Seseorang yang tengah dirudung susah dalam hatinya selalu merindukan hikmah yang menyejukkan. Hikmah itu bisa berupa nasihat dan berita kebenaran.  Keadaan lain merubah kebiasaan orang dahulu. Anak-anak zaman sekarang lebih gampang ingat iklan di TV daripada nasihat orang tuanya. Generasi ABG pun sama, lebih peduli dengan status teman daripada pesan orang tua di pagi hari. Sudah seringkali dibilang jika sekolah jangan pernah suka bolos. Tetapi, faktanya tetap saja surat panggilan guru BP datang meminta orang tua ke sekolah. Itu semua lantaran kenakalan anaknya yang sulit dikendalikan. Istilah zaman dahulu, orang bilang, "Dinasihati masuk telinga ka...

Tipe Ibadah Manusia

Oleh : Fattah Alfarhy Sebagai seorang muslim yang taat tidak sepatutnya meninggalkan shalat barang satu waktu saja. Tidak menjamin bahwa kehidupan masih ditemui esok hari oleh setiap orang. Tanpa disadari hidup yang dijalaninya nge- flat saja tidak ada peningkatan sedikit pun. Tingkat ketaatan muslim mengikuti naik turunnya iman yang tertancap dalam hatinya. Lagi-lagi Islam dibawa-bawa untuk sesuatu yang tampak kasat mata saja. Jika itu berupa aksi nyata, dan memiliki jama'ah ratusan lebih orang-orang banyak kepincut. Sampai-sampai tiada bedanya mana aksi sungguhan dan ikut-ikutan. Ironisnya jika dalam berbuat di lapangan keluar ujaran kebencian untuk saudara seiman. Hanya gara-gara tidak kumpul dalam satu kesempatan yang sama menjadi obyek dendam sumpah serapah satu oknum yang mengatasnamakan muslim. Ibadah di dunia ini merupakan satu konsekuensi bagi manusia sebagai makhluk Allah. Manusia telah berjanji kepada Allah akan menjadi Hamba-Nya jauh masa sebelum dilahirkan ke ...

Menulis; Antara Kesan dan Gagasan

Oleh: Fattah Alfarhy Seorang manusia terlahir ke dunia bukan tanpa tujuan. Kehidupan yang dihadapinya menjadi satu medan untuk dia berpikir dan berkarya. Tanpa karya nyata, manusia hanya meninggalkan nama. Dan pada akhirnya lambat laun namanya akan terbenam oleh nama-nama lain yang berhamburan. Itulah pentingnya sebuah karya untuk menunjukkan eksistensi manusia. Sebagai makhluk pemikir, dia harus membuktikan jejak kehidupannya dalam sebuah karya sebagai buahnya. Dunia teramat luas untuk dijangkau manusia. Keluasannya mengundang rasa penasaran untuk menggali segala yang ada. Melalui panca indera yang dimilikinya, dia mencari tahu apa arti sebuah nama. Jika tanpa berpikir tak mungkin manusia mengerti apa itu materi untuk sebuah nama. Contoh mudah saja buah apel. Makan buah apel satu saja terasa ketagihan. Tak puas kalau cuma satu saja. Betapa enaknya rasa asam bercampur manis yang dibalut elok kulitnya berwarna merah atau hijau. Itulah sedikit sifat buah apel. Atas mata yang meli...

Bijak itu Belajar dari Mana pun

Oleh: Fattah Alfarhy "A wise person knows that there is something to be learned from everyone," Anonymous Seorang bijak selalu dicari orang. Dia juga takkan berhenti belajar pada satu orang saja. Satu masalah baginya tidak cukup ditafsirkan oleh persepsi dari satu sumber saja. Selalu mencari celah untuk mengembangkan sesuatu yang telah dia baca, dengar dan tuliskan. Dia benar-benar seorang pembelajar sejati. Prinsip yang begitu kuat tertanam dalam dirinya. Membaca kesempatan, menajamkan renungan untuk mendapatkan hikmah-hikmah yang masih tersegel dalam ruang kehidupan. Sebuah nama baginya tidak cukup diartikan sebagai perkenalan. Saling bertukar pengalaman lewat canda dan tulisan selalu dia harapkan. Dia benar-benar sosok penyemangat. Sepatah kata pun baginya menjadi satu hal yang berharga dari siapapun yang dia ajak bicara. Sependek waktu yang dia lalui semakin bermanfaat saat mampu berbagi pemikiran kepada orang lain. Satu hal terpenting ada pada orang ini adal...

Ujian Dalam Nikmat Al-Qur'an (habis)

Oleh: Fattah Alfarhy Al-Qur'an tersusun indah dalam segala sisinya yang ada. Ia turun sebagai wahyu terakhir bagi utusan terakhir pula, yakni Muhammad Saw. Kemurnian Al-Qur'an akan senantiasa terjaga di segala tempat sepanjang masa. Oleh Allah bersama orang-orang pilihan, ia menjadi istimewa bagi pemiliknya. Al-Qur'an juga menjadi anugerah terbesar bagi umat sejagat raya. Seruan kebenaran yang terkandung di dalamnya tidak memandang siapa pembacanya. Sehingga, jalan kedamaian akan menghampiri siapa pun yang mendapatinya sebagai petunjuk. Susunan kalam berkelas yang tiada tertandingi membias bagai mutiara yang mempesona. Siapapun akan terpana oleh keindahannya dalam segala kesempatan. Karenanya, Al-Qur'an tiada duanya dengan yang lainnya. Tiada satu pun makhluk yang mampu menciptakan tandingan baginya. Ia adalah pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Ia adalah petunjuk umat sepanjang masa. Kehadirannya menjadi cahaya penerang segala kegelapan dunia. Jika Al-Qur'an...

Ujian Dalam Nikmat Al-Qur'an (4)

Oleh: Fattah Alfarhy Al-Qur'an yang telah dihafal menjadi tanggung jawab penghafalnya. Muraja'ah --mengulang-ulang-- hafalan itu wajib hukumnya. Jika tidak diulang sampai berakibat lupa orangnya berdosa. Betapa beratnya tanggung jawab mereka. Namun, demikian halnya berat upaya yang dilakukan sebanding dengan pahala yang didapatkannya. Sebegitu besarnya, sampai berlipat ganda. Satu huruf mendapat 10 kebaikan sebagai pahala bacaan Al-Qur'an. Terbayang jika ayat "basmalah" saja sudah 19 huruf, itu berarti dapat 190. Jika dalam sehari saja bisa 1 juz, berapa banyak itu huruf yang bisa dikalikan dengan 10 kebaikan. Pahala membaca Al-Qur'an itu sangatlah besar. Besarnya itu sebanding dengan berat yang dipikul penjaga Al-Qur'an. Antara pahala dan dosa dipertaruhkan oleh mereka. Jika mereka mau menjaganya secara istiqomah, pahala pasti didapatnya. Jika mereka tidak muraja'ah sampai melupakan kewajibannya, dosa pasti menimpanya. Tentunya, pahala sesuai dengan...

Ujian Dalam Nikmat Al-Qur'an (3)

Oleh: Fattah Alfarhy Juz 'Amma mengawali perjuangan tiap penghafal Al-Qur'an. Surah-surah pendek yang termuat di dalamnya menjadi pintu gerbang masuk ke hafalan selanjutnya. Juz 'Amma merupakan sebutan lain bagi juz 30 dalam Al-Qur'an. Nama tersebut akrab karena juz 30 diawali dengan kata 'Amma pada surah An Naba'. Akan tetapi, hafalan akan dimulai dari surah An Nas yang berada paling akhir di mushaf Al-Qur'an. Al Falaq menjadi lanjutannya secara urut sampai An Naba' sebagai penutupnya. Seseorang yang diberi kemudahan hafal juz 'Amma, kemungkinan akan mudah untuk menghafal juz selanjutnya. Menghafal juz 30 merupakan langkah awal untuk menguji seberapa kuat hafalan seseorang. Jika dapat selesai lebih kurang satu bulan, itu pertanda kekuatan hafalannya normal. Namun, jika melebihi dari 2-3 bulan perlu dipertanyakan kesungguhan menghafalnya. Walau demikian, hafal juz 30 tidak boleh dijadikan jaminan penuh untuk kemudahan hafalan juz lainnya. Niat dan...

Ujian Dalam Nikmat Al-Qur'an (2)

Oleh: Fattah Alfarhy Khatam Al-Qur'an sekali kepada seorang guru ngaji adalah sebuah anugerah. Upaya yang dilakukan tidak sia-sia. Berangkat tiap sore menjelang Magrib ke tempat pengajian jadi rutinitas. Selesai menyetor kepada kyai kampung terasa lega. Betapa senangnya usai menyetor bacaan Al-Qur'an tanpa hambatan. Itu semua tidak lepas dari jeri payah belajar di siang harinya. Karena itu, kelancaran membaca Al-Qur'an menjadi satu buah manis kemauan belajar. Jika tiap hari dapat dijalani, Allah pasti memudahkan jalan untuk menguasai kemampuan baca Al-Qur'an. Dimarah-marah saat belajar Al-Qur'an itu biasa. Mulai ketika belajar di hadapan ibu sendiri sampai ketika di pondok. Belajar di hadapan kyai atau ustadz Al-Qur'an terasa lebih menakutkan. Takut itu muncul karena rata-rata guru Al-Qur'an itu ketat dan galak. Kedengarannya mengerikan, tapi semua tentu demi kedisiplinan dan kebaikan ke depannya. Al-Qur'an itu bukan kitab biasa. Untuk mempelajarinya t...

Ujian Dalam Nikmat Al-Qur'an (1)

Oleh: Fattah Alfarhy "Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur'an dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya." QS. Al Hijr [15]: 9 Menjaga Al-Qur'an itu tugas mulia. Ketika ada orang sanggup menjaga Al-Qur'an, dia berarti ikut serta bersama Allah. Ayat di atas buktinya. Allah yang menurunkan Al-Qur'an dan Dia pula yang menjaganya. Di dalam penjagaan itu, Allah melibatkan manusia. Sehingga, Al-Qur'an tidak saja terjaga secara batiniah tapi juga proses lahiriah dilakukan oleh manusia. Semua diupayakan demi menjaga kemurnian isi dan kandungan Al-Qur'an. Setiap penjaga Al-Qur'an pasti bukan orang sembarangan. Dan juga otomatis dia satpam pilihan Allah. Mereka dikenal sebagai Huffazh Al-Qur'an. Kata Huffazh itu jama' dari mufrad Hafizh, yang berarti penjaga. Ada pula yang berarti penghafal. Kedua makna itu bisa terjadi karena konteks kalimatnya. Jadi, Hafizh Al-Qur'an itu simpelnya penjaga Al-Qur'an. Dengan menghafalkan Al-Qur'an it...

Sirah Ramadhan (6)

Oleh: Fattah Alfarhy Kesehatan menjadi modal utama saat berpuasa. Kekuatan fisik akan lahir dari tubuh yang sehat. Kemampuan untuk menjalankan ibadah puasa menjadi salah satu syarat. Jika orang sedang sakit, tidak puasa tidak mengapa. Namun, keadaan sehat tidak boleh menghalangi seseorang meninggalkan berpuasa. Badan sehat tidak butuh makan yang banyak. Gisi di dalam makanan harus diutamakan guna menjaga kondisi tubuh selama Ramadhan. Badan sehat, fisik kuat, ikhlas niat akan memberi kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa. Tanpa disadari oleh semua, berpuasa itu sehat. Orang yang terbiasa puasa akan menyehatkan tubuhnya. Memang pada kenyataannya saat siang lemas tubuhnya, tetapi akibat di kemudian hari akan meningkatkan daya tahan tubuh. Kesehatan akan meningkat dan ketahanan diri lebih kuat. Jadi, salah besar bila ada orang masih beranggapan puasa itu menyakitkan dan penderitaan saja yang akan didapat. Padahal sejatinya dengan puasa itu akan membantu tubuh dalam memperbaharui sel-s...

Sirah Ramadhan (5)

Oleh: Fattah Alfarhy Puasa Ramadhan membutuhkan energi yang cukup besar bagi setiap muslim. Kekuatan fisik dan mental menjadi modal utama dalam menjalankan ibadah di bulan ini. Keduanya harus berjalan saling mendukung dan menguatkan guna mengasah spiritualisme di dalam setiap jiwa mereka. Orang Islam yang berpuasa bersyarat memiliki kekuatan untuk menahan lapar dan dahaga selama sebulan lamanya di siang harinya. Sedangkan di malam harinya mereka harusnya turut serta mengejar keutamaannya dengan shalat tarawih dan amalan sunnah lainnya. Artinya mereka harus kuat dalam menjalankan ibadah puasa. Saat berpuasa menahan diri dari segala yang membatalkan menjadi tugas utama. Meninggalkan makan, minum hingga berhubungan dengan pasangan saat siang hari menjadi sederetan larangan yang harus ditinggalkan. Untuk melakukan semua itu tidak mungkin hanya bermodal niat saja. Akan tetapi, kekuatan fisik juga menjadi tumpuan utama. Keikhlasan niat akan mengiringi kekuatan fisik dalam menjalankan ibada...

Sirah Ramadhan (4)

Oleh: Fattah Alfarhy Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar istilah puasa "mbedhug" atau jamak ditelinga orang Jawa puasa "sebedhug". Terdengar unik istilah yang dipakai orang-orang dulu. Bedhug merupakan salah satu alat penanda telah tiba waktunya shalat. Saat waktu shalat telah masuk, bedhug dipukul guna memanggil orang-orang di sekitar masjid untuk shalat berjamaah. Maklum saja dulu belum mudah didapati speaker pengeras suara di masjid. Selain itu, bedhug juga menjadi penanda datangnya bulan Ramadhan atau telah berakhirnya Ramadhan yang ditandai menyambut awal Syawal diiringi lantunan takbir di desa-desa zaman dulu. Tradisi yang tertanam di dalam masyarakat itu menunjukkan betapa indahnya syiar Islam dari masa ke masa. Keberadaan Islam Indonesia yang begitu istimewa dengan corak dan keberagaman adat istiadat masing-masing daerah. Sebagian daerah lain mungkin ada yang tidak menggunakan bedhug, tetapi memanfaatkan kentongan sebagai tanda waktu shalat. Ukur...

Sirah Ramadhan (3)

Oleh: Fattah Alfarhy Berpuasa tiap hari sungguh ibadah yang mulia. Ramadhan yang mulia sangat bernilai berkahnya. Setiap orang menanti cucuran rahmat dari Allah. Segala waktu di bulan ini dipenuhi pahala bagi orang-orang yang punya semangat penuh takwa. Namun, sayang jika ibadah yang dilakukan sudah berhari-hari ini bakal sia-sia. Bagaikan amalan tanpa arti meninggalkan jejak kehidupan yang merugi. Orang berpuasa itu menahan lapar dan dahaga. Kelaparan yang dirasakannya menjadi pertanda ibadah yang betul-betul dijalankan. Lain ceritanya, jika seseorang berpuasa pada siang harinya dipenuhi tidur saja. Kalau memang begitu anak kecil pun bisa. Selain itu, menahan diri dari gejolak nafsu yang membara juga menjadi bagian penting dari puasa. Karenanya puasa itu memerlukan ilmu dan tata cara. Tidak asal ikut-ikutan teman atau demi menjaga kehormatan di hadapan calon mertua. Rasulullah Saw. bersabda: رب صائم ليس من ص...

Sirah Ramadhan (2)

Oleh: Fattah Alfarhy Sudah hampir sepekan Ramadhan hadir di tengah- tengah kaum muslimin. Rasa rindu itu terobati dengan kedatangannya. Dua bulan lalu masih sering berdoa agar disampaikan usianya di bulan Ramadhan. Kini telah sampai masa untuk bersamanya. Siang malam harus menjadi ibadah untuk menanam pahala. Shalat tarawih, ibadah puasa dan amalan-amalan sunnah lainnya sepatutnya memenuhi hari-hari yang akan berlangsung sebulan ini. Sudah sejauh ini dia bersama kita. Sadar tidak sadar waktu akan terus berjalan meninggalkan Ramadhan. Jika tidak memanfaatkannya akan tertinggal dalam kerugian. Keuntungan hanya didapat dari hidangan, bukan berupa pahala Tuhan. Ramadhan datang membawa kemuliaan, keberkahan serta ampunan. Menjadi satu kesempatan emas untuk memperbaiki segala amalan ibadah selama ini. Rasulullah Saw. bersabda: إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار وصفدت الشياطين. رواه مسلم عن أبي هريرة "Jika datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga akan dibuka,...

Sirah Ramadhan (1)

Oleh:   Fattah Alfarhy Ternyata sudah puasa yang kelima. Mungkin ada yang merasa berat, ada pula yang mulai terbiasa. Semua tetap satu tujuan meraih kemuliaan di bulan ini. Ramadhan menjadi bulan yang penuh hikmah, banyak pahala dan penuh kebersamaan. Keindahan bulan Ramadhan tidak saja dapat dinikmati dengan hidangan spesial saat berbuka. Akan tetapi, kehadirannya saja sudah spesial dan akan terasa istimewa dengan aneka ibadah juga amalan mulia. Ramadhan menjadi bulan penuh ampunan. Setiap insan pasti memiliki dosa dan seringkali berbuat maksiat. Bulan ini menjadi satu momentum untuk bertobat. Amal kebaikan akan dilipatgandakan. Keburukan lebih mudah untuk ditahan, karena nafsu yang ditaklukkan. Rasa lapar dan dahaga bukan tanpa arti. Keduanya akan melumpuhkan nafsu yang membara. Sehingga, lebih mudah menahan diri dari perbuatan dosa besar. Rasulullah Saw. bersabda: الصلوات الخمس والجمعة إلى الجمعة ورمضان إلى رمضان مكفرات ما بينهن إذا اجتنبت الكبائر "Shalat lima w...

Bagimu, Pahlawan Al-Quran Sejati

Oleh : Fattah Alfarhy Saat ku ingat, sepotong wajah itu Penuh kesejukan dalam senyum dan wibawa Kharisma tinggi menjulang tanpa merendahkan Sambutan hikmah di hadapan para guru besar Al-Quran mulia Enam tahun lalu ku injakkan kaki di tempat itu Majlis penuh kenangan hebat nan indah Di sanalah aku bertemu orang-orang kuat Para pejuang Al-Quran yang penuh kedamaian Abah, Engkau mempertemukan kami di Al-Hikam Taman cahaya ilmu yang takkan pernah padam Dari ketiadaan menjadi berwawasan Menyadarkan kami dalam dunia pikir dan bacaan Masa itu telah berlalu Engkau laksana embun suci dalam jiwa kami Kesejukan titahmu pelita penuntun hidup Dalam naungan ilahi dan ibu pertiwi Abah, Kini engkau telah berpulang ke Rahmat-Nya Semua merasa kehilangan sosok guru bangsa Engkau yang dalam naungan cinta dan hikmah Menyisakan berjuta kenangan tanpa jeda Di batas nengeri ini aku berdoa Semoga ada kekuatan penerus perjuanganmu Engkaulah pahlawan kami dalam agama Hanya lantunan ayat...

Belajar Mencintai

Oleh: Fattah Alfarhy Membaca dua kata di atas, kesannya mengundang pertanyaan. Dua kata di atas menyisihkan waktu pembaca untuk berpikir. Entah itu berpikir tentang judulnya, atau barangkali keadaan penulisnya. Ada apa dengan cinta? Benarkah si penulis telah menemukan cintanya? Atau yang di atas hanya judul begitu saja. Tulisan memang mewakili perasaan si penulis biasanya. Namun, pada kondisi sekarang ini tentu saja tidak lantas menulis itu harus karena cinta. Merasakan cinta itu naluri manusia. Tidak setiap orang mampu mengeja rasa cintanya dalam kehidupan yang dijalaninya. Bukan dalam arti sempit cinta terhadap lawan jenis seperti yang anak-anak remaja terjemahkan. Cinta yang ingin dipelajari justru tentang sebuah rasa mendalam dalam jiwa seseorang. Maka, perlu dipelajari dan diaplikasikan dalam hidupnya. Adakalanya seseorang bicara tentang cinta, saat bertemu idolanya. Siapa kagum dia tentu memujanya. Pujaan hati selalu dinanti. Saat bertemu menghilangkan rasa jemu. Anak muda bil...

Aku Harus Tetap Mengaji (Sebuah Cerpen)

Oleh:  Fattah Alfarhy Siang ini terik panas matahari sangat menyengat kulitku. Aku hampir tak tahan dengan keadaan ini yang menyiksa. Panas dan rasa haus melengkapi penderitaanku. Sementara, pelajaran Matematika belum terlihat tanda-tanda berakhirnya. Pikiranku kian melemah dan serasa tak sanggup lagi menghitung perkalian bilangan kecil sekalipun. Rumus-rumus itu semakim merumitkan pikiran sehatku. Dalam benakku hanya satu, "Kapan pulang, pulang dan pulang?" Aku sudah tidak tahan. Ku pandangi berkali-kali jam tangan pink mungilku. Jarumnya lama sekali tampak tak bergerak, perasaan ini melayang-layang semakin aneh. Rasanya sudah tidak tahan duduk di tempat ini. "Ya Allah, cobaan ini begitu berat bagiku. Pelajaran Matematika di jam terakhir sekolah." Tiba juga pukul 14.00, bel tanda pulang sudah berbunyi. Riuh teriakan teman-teman sekelasku mengakhiri kegiatan kelas hari ini. Rasa ceria dan lega tampak dari raut wajah mereka. Panas terik matahari seak...